Silat Sabeni Menangkis Punah
Oleh :
Nurito
Sabtu, 26 September 2026 | 323
For a better view,
please rotate your phone
Nurito
Sabtu, 26 September 2026 | 323
Malam perlahan bergerak di kawasan Tenabang (Tanah Abang), Jakarta Pusat. Di tengah riuh permukiman dan aktivitas warga yang belum sepenuhnya reda, suara hentakan kaki terdengar dari lapangan bola voli di Jalan Petamburan VI, RT 08/06, Kelurahan Petamburan.
Sejumlah anak hingga usia dewasa mulai mengambil posisi. Tubuh mereka sigap, pandangan mereka waspada, tangan bergerak cepat mengikuti aba-aba pelatih. Sesekali terdengar suara tepukan dan hentakan kaki menyentuh permukaan lapangan.
Di bawah penerangan lampu malam, gerakan demi gerakan diperagakan. Ada sapuan kaki yang dilakukan tiba-tiba, ada gerakan tangan sebagai tipuan, hingga pukulan dengan ujung jari yang menjadi ciri khas.
Itulah salah satu jejak panjang Silat Sabeni Tenabang, seni bela diri Betawi yang lahir sekitar tahun 1860 dari tangan Haji Sabeni bin Canam di daerah Kebon Pala, Tanah Abang.
Bagi masyarakat adat Betawi, nama Silat Sabeni Tenabang tentu bukan sesuatu yang asing. Pencak silat tradisional yang tumbuh pada masa penjajahan kolonial Belanda tersebut hingga kini masih bertahan di tengah perubahan zaman.
Salah satu ciri paling dikenal dari aliran ini adalah pukulan model totok jari. Gerakannya cepat dan sulit ditebak. Dalam catatan Wikipedia, Silat Betawi Tenabang juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Provinsi DKI Jakarta dengan Nomor Registrasi 201900925.
Namun, mempertahankan sebuah warisan budaya tidak semudah menyimpan benda di dalam lemari. Ia harus terus dimainkan, diajarkan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Para murid Silat Sabeni, baik yang masih memiliki garis keturunan dengan Haji Sabeni bin Canam maupun yang tidak, terus berupaya menjaga keberadaannya agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.
Tempat latihan pun tidak lagi menetap seperti dahulu. Latihan terkadang digelar di lapangan bola voli Jalan Petamburan VI atau di sejumlah tempat lain di sekitar Kecamatan Tanah Abang.
"Upaya lain untuk melestarikannya adalah menampilkan atraksi 'palang pintu' dalam setiap event di masyarakat, baik yang dihelat jajaran Pemprov DKI maupun oleh masyarakat secara mandiri," kata Abdul Syukur bin Muhammad Rais (68), salah satu tokoh Silat Sabeni Tenabang.
Menurutnya, Silat Sabeni sepanjang sejarahnya juga kerap tampil dalam berbagai festival. Bahkan, aliran tersebut sudah masuk sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sejumlah sekolah dasar (SD).
Ketika ada kejuaraan pencak silat, perguruan ini juga ikut ambil bagian. Namun, nama yang digunakan bukan selalu nama perguruan Silat Sabeni Tenabang, melainkan nama sekolah tempat kegiatan ekstrakurikuler tersebut berlangsung.
Totok Jari dan Gerakan Tipuan
Abdul Syukur menjelaskan, salah satu pembeda Silat Sabeni dengan perguruan pencak silat lainnya terletak pada gerakan cepat pukulan totok jari dan sapuan kaki yang ditujukan untuk menjatuhkan lawan.
Dalam Silat Sabeni terdapat 15 jurus. Beberapa di antaranya yang menjadi andalan hingga sekarang adalah Jalan Cara Cina, Kelabang Nyebrang, Empat Persegi, Empat Kelima Pancer dan Sela Bumi.
Setiap jurus memiliki karakter gerakan tersendiri. Gerakan tersebut tidak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga kecepatan, tipuan dan kemampuan membaca pergerakan lawan.
Pada malam latihan, rangkaian gerakan itu terlihat seperti perpaduan antara ketangkasan dan ketelitian. Satu gerakan tangan dapat menjadi pengalih perhatian sebelum kaki bergerak menyapu. Ketika lawan memperkirakan serangan datang dari satu arah, gerakan berikutnya justru dapat muncul dari arah berbeda.
Para pengikut aliran Silat Sabeni diyakini memiliki kemampuan untuk membaca gerakan lawan sekaligus mencari celah dalam pertarungan.
Selain teknik tangan dan kaki, Silat Sabeni juga mengajarkan penggunaan sejumlah senjata sebagaimana pencak silat pada umumnya, seperti golok, celurit, toya dan trisula.
Tidak mengherankan jika pada masa lalu orang Tanah Abang yang menguasai Silat Sabeni dikenal memiliki kemampuan bela diri dan disegani ketika bepergian ke daerah lain.
Abdul Syukur sendiri mengenal Silat Sabeni sejak berusia 12 tahun. Kala itu, ia belajar silat di lahan kosong dekat rumahnya di Gang Mess Dalam, Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang.
Puluhan tahun berlalu, namun ingatan tentang latihan di lahan kosong itu masih melekat. Kini, ia justru berada di sisi lain, ikut menjaga agar gerakan yang pernah dipelajarinya tidak berhenti pada satu generasi.
Dari Jagoan Kemayoran hingga Masa Pendudukan Jepang
Nama Silat Sabeni Tenabang mulai semakin tersohor setelah mengikuti pertandingan persahabatan melawan jagoan Kemayoran.
Silat Sabeni juga tercatat pernah menang ketika berhadapan dengan ahli-ahli bela diri Jepang dalam pertandingan yang diselenggarakan Pemerintahan Militer Jepang.
Pendiri aliran ini, Haji Sabeni bin Canam, wafat pada 15 Agustus 1945. Tetapi, kepergiannya tidak serta-merta mengakhiri perjalanan ilmu bela diri yang telah dirintisnya.
Warisan Beladiri Terus Dilestarikan
Hermanto, atau yang akrab disapa Buyung Sikumbang, tokoh Silat Sabeni Tenabang lainnya menuturkan, setiap perguruan silat pada dasarnya memiliki ciri khas gerakan masing-masing.
Silat Sabeni lebih condong mengandalkan pukulan totok jari yang dilakukan dengan cepat. Namun, sebelum serangan totok dilancarkan, terdapat berbagai gerakan tipuan menggunakan tangan dan kaki untuk mengecoh lawan.
"Perbedaan semua mainan tuh bagus, tapi tidak sama. Ya istilah kata ada pukulan begini (mengepal), kalau dari Sabeni identik dengan pukulan totok," bebernya.
Gerakan sapuan kaki juga menjadi bagian penting. Gerakan tersebut dapat digunakan sebagai tipuan untuk kemudian menjatuhkan lawan melalui teknik bantingan.
Menangkis Kepunahan
Di tengah derasnya budaya populer dan perubahan gaya hidup generasi muda, keberadaan Silat Sabeni menghadapi tantangan yang berbeda dari masa lalu.
Bukan lagi sekadar menghadapi lawan dalam arena, tetapi bagaimana membuat generasi berikutnya tetap mengenal, mempelajari dan mencintai warisan budaya dari lingkungan mereka sendiri.
Latihan malam itu pun kembali berlangsung. Tangan bergerak, kaki melangkah dan tubuh mengikuti irama gerakan yang sudah diwariskan selama puluhan tahun.
Di bawah cahaya lampu lapangan, para pesilat muda mengulang gerakan yang sama berkali-kali. Tidak ada suara gemuruh pertandingan. Hanya suara hentakan kaki, aba-aba pelatih dan napas yang sesekali terdengar berat setelah rangkaian gerakan selesai.
Warisan budaya tidak cukup hanya dicatat sebagai milik masa lalu. Ia harus terus bergerak agar tetap hidup. Gerak itu masih berlangsung di Tanah Abang. Pukulan totok masih dilatih, sapuan kaki masih diperagakan. Sementara, para pewarisnya terus berusaha menangkis satu lawan yang tidak terlihat di arena, "kepunahan".