You don't have javascript enabled. Good luck with that.

For a better view,
please rotate your phone

Merawat Nostalgia di Bising Kota | Loka Urban

Merawat Nostalgia di Bising Kota

Oleh :

Anita Karyati

Minggu, 10 Mei 2026 | 499

Sebuah pintu kaca berwarna gelap yang berdiri kokoh pada salah satu sudut dalam Gedung Jaya di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat seolah menjadi portal menuju dimensi lain. 

Saat kaki melewati pintu, kebisingan klakson kendaraan dan keriuhan aktivitas ibu kota mendadak sirna, tergantikan aroma kayu tua, temaram lampu kuning yang hangat serta alunan musik oldies yang memanjakan telinga.

Ya, kesan pertama inilah yang terasa saat memasuki The Jaya Pub. Seakan tak lekang digerus zaman, ruang hiburan yang berdiri sejak 1975 ini tetap setia pada identitas lawasnya.  

The Jaya Pub bukan sekadar tempat hiburan malam. Ia adalah saksi hidup perubahan Jakarta lintas generasi.

“Yang bikin orang balik lagi itu vibes-nya. Seru, tapi tidak rusuh,” kata Christo Tulus, pelanggan setia yang mengenal Jaya Pub sejak 2010.

Bagi pria berusia 35 tahun ini, tempat itu menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan di Jakarta saat ini, yakni keaslian. Tidak dibuat-buat, tidak mengikuti tren sesaat. Semua terasa apa adanya.

Karyawan salah satu hotel di bilangan Jakarta Pusat ini mengaku, duduk sambil menikmati minuman dan musik lawas di Jaya Pub terasa jauh lebih menenangkan dibanding ingar-bingar tempat hiburan lain.

“Stafnya juga masih banyak yang sama dari dulu. Jadi ada rasa nostalgia setiap datang ke sini,” tuturnya.

Kesan serupa dirasakan Inka Ganika yang mengaku pertama kali datang ke Jaya Pub karena diajak rekan kerjanya. Sejak malam pertama itu, perempuan berusia 30 tahun ini merasa seperti sedang kembali ke masa yang tidak pernah ia alami sebelumnya.

"Ada sesuatu yang hangat dari lagu-lagu lama yang disajikan secara live di sini," ucapnya.

Setia Menyanyi 

Bagi sebagian pengunjung setia The Jaya Pub, nama Ria Subroto mungkin sudah tidak asing lagi. Perempuan inilah yang selama 38 tahun setia menemani mereka sepanjang malam dengan alunan merdu suaranya.    

Ria sudah tampil mengisi music live di The Jaya Pub sejak usia 19 tahun, tepat setelah lulus SMA. Awalnya hanya mengikuti jejak sang kakak. Namun siapa sangka, tempat itu kemudian menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.

Kini, setelah berusia 57 tahun dan memiliki cucu, Ria masih setia menyanyikan lagu-lagu oldies dari era 50-an hingga 90-an bersama band-nya, “Ria and Friends” setiap Senin, Rabu, Jumat dan Sabtu.

Bagi Ria, The Jaya Pub bukan sekadar tempat mencari nafkah.“Ini sudah seperti rumah kedua,” tukasnya.

Ia mengenal banyak pelanggan sejak mereka masih muda hingga kini datang membawa anak-anak mereka. Dia merasa, ada kedekatan yang tidak bisa dibeli dengan konsep modern atau interior mewah.

“Yang penting itu suasananya jangan hilang. Karena orang datang ke sini bukan cuma makan dan minum, tapi merasakan kenangan,” ujarnya. 

Menjaga Konsistensi 

Kenangan itu juga dijaga Wirdayati, salah satu pramusaji senior yang telah bekerja hampir 40 tahun di Jaya Pub. Ia sudah melewati dua generasi pemilik dan menyaksikan sendiri bagaimana tempat itu bertahan di tengah perubahan zaman.

Dulu, kenang Wirda, sebagian besar pengunjung merupakan ekspatriat dan pejabat kedutaan asing. Kini, mayoritas tamunya adalah warga lokal Indonesia. Meski begitu, suasana hangat khas Jaya Pub tidak pernah berubah.

“Di sini semua tamu diperlakukan sama seperti keluarga,” ucap perempuan berusia 61 tahun ini. 

Menurutnya, itulah rahasia mengapa banyak orang tetap kembali. Tidak peduli apakah tamu itu pejabat, musisi, pekerja kantoran atau pelanggan biasa, semuanya mendapat pelayanan yang sama.

Bahkan ketika Jaya Pub sempat berpindah lokasi dari daerah Cideng, interior dan tata letak ruangan tetap dibuat menyerupai tempat lamanya. 

Meja, kursi, hingga nuansa ruang dipertahankan demi menjaga rasa akrab yang selama puluhan tahun melekat di hati pelanggan.

Sementara itu, Owner The Jaya Pub, Ardianto mengungkpakan, konsistensi menjadi alasan utama tempat ini tetap hidup hingga sekarang.

“The Jaya Pub bisa bertahan karena tetap konsisten dengan konsepnya,” terangnya.

Didirikan pesohor senior Indonesia, Frans Tumbuan dan Rima Melati, The Jaya Pub sejak awal memang dirancang sebagai tempat berkumpul informal bagi tamu asing dan lokal di luar suasana hotel. Konsep itu tetap dipertahankan hingga hari ini.

Musik oldies, waitress senior, menu Eropa bercampur cita rasa Indonesia hingga suasana klasik menjadi identitas yang tidak pernah dilepas.

Di tengah munculnya tempat-tempat hiburan baru di Jakarta, Ardianto berharap, The Jaya Pub tetap eksis dan tidak kehilangan jiwanya.

“Tempat seperti ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga bagian dari sejarah dan keramahan Jakarta,” katanya.

Dan mungkin memang itu yang membuat The Jaya Pub tetap hidup hingga hari ini. Bukan karena lampunya yang redup. Bukan karena minumannya. Bukan pula karena musik lawasnya semata. Melainkan karena di tempat itu, Jakarta yang lama masih bisa ditemukan hangat, akrab dan penuh cerita..