Pesona Sang Legenda
Oleh :
Nurito
Minggu, 18 Oktober 2026 | 195
For a better view,
please rotate your phone
Nurito
Minggu, 18 Oktober 2026 | 195
Dalam perjalanan hidup, terkadang kita tidak akan pernah tahu nilai sebenarnya dari sebuah momen, sampai itu menjadi sebuah kenangan. Dan, hidup terasa lebih berwarna dengan kumpulan kenangan indah yang tak lekang oleh waktu.
Setidaknya, itulah yang dirasakan Ismail saat dirinya menikmati secangkir kopi hitam hangat pada satu sudut ruang kedai berukuran 10x5 meter persegi di sisi utara bagian depan Pasar Rawamangun, Jakarta Timur.
Seiring seruputan kopi hangat yang mengalir lembut di tenggorakan, bayang lelaki berusia 37 tahun ini menerawang ke masa 26 tahun silam, saat dirinya sering diajak sang kakek ngopi bareng di kedai kopi ini.
"Dulu saya sering diajak kakek ngopi di sini," kenangnya, senja itu.
"Karena rasanya enak jadi akhirnya ketagihan dan saya sering ngopi di sini. Padahal dulunya saya tidak suka kopi," aku warga Jalan Rambutan, RT 07/08, Rawamangun ini.
Bahkan, belakangan ia mengaku sering mengajak istri dan ketiga anaknya yang masih kecil untuk ikut ngopi di kedai tersebut.
"Kenapa saya ajak anak ikut ngopi, katanya kalau anak kecil dikasih minum kopi itu untuk mencegah terkena stip atau kejang-kejang," imbuh lelaki berkacamata minus ini.
Selain kakek dan dirinya, rupanya sang ayah juga pelanggan tetap Kedai Kopi Bemo. Bisa dibilang, Ismail merupakan pelanggan generasi ketiga kedai kopi yang berdiri sejak 1965 tersebut.
Lalu, apa yang membuatnya kepincut dengan seduhan kopi di kedai ini? "Selain harga terjangkau, rasa kopinya juga sangat kental," ucap penggemar kopi Robusta ini.
Penilaian yang sama diutarakan Widi Mulyadi, salah seorang konsumen dari Jatinegara Kaum. Pria berusia 45 tahun ini mengaku kerasan di kedai ini karena rasa kopinya pas, tidak kental dan tidak encer. Harganya juga, menurut Widi, cukup terjangkau dan tempatnya bersih serta nyaman.
"Kalau saya suka kopi pahit. Racikannya pas, tidak encer, tapi kalau di sini tuh bener kekentalannya pas," tuturnya.
Generasi Kedua
Berdiri sejak 1965, keberadaan Kedai Kopi Bemo di Pasar Rawamangun terbilang sudah menjadi legenda.
Awalnya, kedai ini dikelola pasangan suami-istri, Rahman Lairin dan Berta. Mereka menjual biji kopi dan kopi seduh bagi pengemudi Bemo (salah satu transportasi umum roda tiga saat itu-red) yang mangkal di pasar tradisional Rawamangun.
Karena banyak pengemudi dan penumpang Bemo yang jadi pelanggan, akhirnya kedai milik Rahman dan Berta ini dikenal dengan nama Kedai Kopi Bemo.
Jatuh bangun harus dijalani Rahman dan Berta dalam menjalankan usahanya ini. Setelah 46 tahun membidangi kedai kopi ini, pada 2011 usaha kedai kopi ini diwariskan kepada sang ponakan, Edward Nurjadi.
Sebagai generasi kedua penerus usaha, Edward pun mesti kerja keras mempertahankan dan mengembangkan kedai kopi ini.
Proses tak pernah mengkhianati hasil, setelah 15 tahun berjuang, Edward pun sukses mengembangkan usaha dengan membuka kedai baru di lantai dasar Pasar Rawamangun, awal Januari 2026.
"Saya ini generasi kedua. Pelanggan Kopi Bemo ini sudah sampai tiga generasi. Kakeknya minum Kopi Bemo, anaknya minum Kopi Bemo, sampai cucunya sekarang masih tetap Kopi Bemo," ujar Edward.
Lumrah, jika kedai kopi yang buka sejak pukul 07.00 hingga 22.00 ini hampir tiap hari selalu dipenuhi konsumen.
Selain pelanggan fanatik yang sudah turun-temurun, kedai milik Edward ini juga jadi tempat 'kongkow' penggemar kopi dari berbagai kalangan, para pekerja serta pengunjung pasar.
"Meski ada di pasar tradisional, kita sangat menjaga kebersihan, hygiene dan kenyamanan," aku Edward.
Menjaga Histori dan Rasa
Di tengah gempuran kafe modern dan tren kopi kekinian, Kedai Kopi Bemo seolah hadir membawa angin segar sekaligus merawat nostalgia di Pasar Rawamangun, Jakarta Timur.
Dikeliling kaca bening cerah, kehadiran Kedai Kopi Bemo seolah mampu menepis kesan pasar tradisional yang kumuh, becek dan kotor. Terbukti, mereka yang datang betah berlama-lama nongkrong di kedai ini.
"Hari biasa pengunjung sekitar 110 bill dan weekend bisa mencapai 200-an bill," ungkap Edward.
Edward mengungkapkan bahwa kunci keberlangsungan usahanya selama ini, terletak pada konsistensi kualitas biji kopi. "Kita pakai biji kopi pilihan, bener-bener dari Toraja dan Halu," kata Edward.
Dijelaskan Edward, saat ini ada sekitar 50 varian yang dijual. Dari sekian banyak varian, paling banyak diminati konsumen adalah Robusta Dampit dan Robusta Temanggung. Sedangkan untuk Kopi Arabikanya ada Toraja, Aceh Gayo, Flores Bajawa dan Gayo Wine.
Untuk menjaga kualitas agar konsumen tidak lari, Edward menegaskan, akan terus menjaga konsistensi rasa meski masih pesan dari 10 roastery yang telah bekerjasama.
Menurut Edward, ada beberapa menu unggulan kopi seduh yang jadi favorit pengunjung. Diantaranya, kopi susu gula aren dan Bemo Signature On The Rock, yaitu kopi campuran Robusta dan susu fresh milk, creamer dan flavor.
"Di tengah persaingan banyak kafe, kedai kopi dan sejenisnya, kita tetap menjaga rasa," tegasnya.
Edward menyatakan, ingin membuka kedai di pasar lainnya. Baginya pasar tradisional memiliki keunikan dan pangsa pasar tersendiri.
"Kami ingin Kedai Kopi Bemo bisa jadi ikon pasar tradisional, karena Kopi Bemo ini ada historinya. " tukasnya.
Edward seolah ingin menegaskan bahwa Kedai Kopi Bemo yang sudah berusia 65 tahun, tetap memiliki pesona yang tak pudar di tengah gempuran kafe modern saat ini. Yuukk Ngopi...