Keterbatasan bukanlah penghalang untuk menggapai mimpi. Sebaliknya, bisa menjadi panggung pembuktian bahwa kekuatan sejati lahir dari kemauan, bukan dari kesempurnaan fisik. Bagi para atlet disabilitas, perjuangan bukan sekadar soal meraih medali, tetapi juga menepis stigma yang menyebut mereka tidak mampu berprestasi.
Di balik hiruk-pikuk arena dan jauh dari sorotan media yang glamor, para atlet disabilitas berjuang menaklukkan rasa sakit, keraguan dan batasan yang kerap dilekatkan masyarakat. Mereka bukan hanya bertanding melawan lawan, tetapi juga persepsi yang meremehkan kemampuannya. Perjalanan panjang olahraga disabilitas dimulai pasca-perang dunia, ketika kegiatan olahraga digunakan sebagai terapi rehabilitasi bagi veteran yang mengalami cedera.
Keberhasilan proses rehabilitasi itu kemudian berkembang menjadi gerakan global hingga lahirlah kompetisi tingkat dunia, termasuk Paralimpiade pertama yang digelar di Roma pada 1960. Seiring waktu, jumlah peserta dan ragam disabilitas yang diakomodasi semakin luas mulai dari tunanetra, cerebral palsy hingga amputasi menandai semakin inklusifnya dunia olahraga.