You don't have javascript enabled. Good luck with that.

For a better view,
please rotate your phone

Oase Bubur Ase

Oleh :

Anita Karyati

Minggu, 16 Maret 2025 | 207

Tanah Betawi memiliki keragaman kuliner yang memiliki cita rasa khas. Salah satunya adalah Bubur Ase (Asinan Semur). Meski sudah tergolong langka, kita patut bersyukur masih ada pedagang yang memberikan kontribusi nyata melestarikan kuliner unik khas Betawi ini. Hal tersebut sebagaimana dilakoni pria bernama Lutfi Asfani atau akrap disapa Bang Lopi.

Berjualan menggunakan gerobak, Lutfi Asfani yang dikenal sebagai pemilik Bubur Ase Bang Lopi masih terus berjualan di Jalan Kebon Kacang IX, Nomor 5, tepatnya di kawasan Pasar Gandaria, Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Setiap harinya, Bang Lopi dengan terampil meracik mangkuk demi mangkuk Bubur Ase untuk melepaskan rasa lapar para pembeli dengan menu yang kaya cita rasa dan memanjakan mulut hingga perut layaknya 'Oase' di padang pasir.

Sesuai namanya, Bubur Ase menyajikan cita rasa bubur yang berbeda dari sekian banyak ragam bubur di Indonesia seperti Bubur Manado, Bubur Cianjur, Sukabumi hingga Bubur Cirebon.

Bubur pada umumnya dibuat dari bahan dasar nasi yang sudah diolah menjadi lembut atau halus. Namun, dalam sajian Bubur Ase yang membedakan adalah cita rasa unik yang dihadirkan pelengkapnya yakni asinan dan semur.

Cita rasa bubur yang gurih berpadu dengan rasa asam dari asinan sayuran dan manis dari semur, sungguh memanjakan indra pengecap saat masuk ke dalam mulut. Bubur Ase makin terasa begitu nikmat dengan topping dari sejumlah kondimen yang terdiri dari kerupuk merah, emping, kacang tanah dan bawang goreng.

Tekstur lembut bubur berpadu dengan topping yang begitu crunchy, memberikan puncak harmonisasi rasa yang begitu lengkap dari gurih, asam dan hangatnya kuah manis semur.

Tak heran, dengan semakin sedikitnya jumlah pedagang Bubur Ase, Bang Lopi kerap kebanjiran pembeli yang rela datang mengantre untuk menikmati kuliner nikmat khas Betawi satu ini.

Bang Lopi menuturkan, usaha yang ditekuninya ini melanjutkan yang sudah dirintis orang tuanya sejak 1968. Lopi mengenang, saat itu orang tuanya masih berjualan di depan rumahnya di Jalan Kebon Kacang III, Nomor 81.

"Sejak dulu keluarga sudah jualan Bubur Ase, mulai dari ibu diteruskan ke kakak saya. Saat kakak sakit, saya yang meneruskan. Resepnya tetap sama, sudah diwariskan turun-temurun, sehingga cita rasanya terjaga," ujarnya saat ditemui beritajakarta.id.

Proses memasak Bubur Ase ini, kata Bang Lopi, sama seperti bubur pada umumnya. Beras yang telah dicuci kemudian direbus hingga menjadi nasi lembek (bubur).

Sementara kuah cokelat atau Semur diracik dengan berbagai rempah seperti merica, pala, cengkeh, dan jahe. Supaya cita rasanya lebih nikmat, kuah tersebut dicampur dengan daging sapi dan tahu cina. Butuh waktu tiga jam untuk memasak kuah Semur agar bumbunya meresap dalam.

Ia menambahkan, untuk Asinan Sayuran yang disajikan dalam Bubur Ase terdiri dari timun, sawi asin, serta taoge. Bahkan, ada yang dicampur dengan lobak dan lokio.

Bagi yang penasaran dengan nikmatnya Bubur Ase, Bang Lopi mempersilahkan datang ke tempat berjualannya pada Selasa sampai Minggu. Satu porsi Bubur Ase dapat dinikmati dengan hanya cukup membayar Rp15.000.

"Saya jualan mulai jam 06.00 sampai 12.00. Rata-rata setiap hari saya biasanya dapat menjual 100 sampai 150 porsi Bubur Ase. Semoga pembeli banyak terus supaya saya bisa tetap melestarikan kuliner Betawi ini," harapnya.

Sejarah Bubur Ase

Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra mengatakan, meski tidak diketahui secara pasti kapan Bubur Ase mulai ada, namun kuliner khas Betawi ini pernah meraih masa keemasan. Pada zamannya, Bubur Ase menjadi sarapan terpopuler, bahkan banyak dijual keliling dengan cara dipanggul.

"Zaman dahulu makanan ini dijadikan makanan pagi atau menu sarapan. Bubur nasi yang dicampur dengan kuah, salah satunya kuah Semur. Orang dulu suka makanan yang becek atau banyak kuahnya," terangnya.

Yahya menjelaskan, arti Ase adalah bumbu yang ditambah pada bubur nasi hingga akhirnya dikenal sebagai kuah Ase. Guna menambah cita rasa, bubur ini dicampur dengan asinan sayur. Sehingga, rasa dari Bubur Ase ini beragam ada manis, asin dan asam. 


Saat ini keberadaan Bubur Ase terbilang langka dan penjualnya terus berkurang. Namun, bukan berarti penjual Bubur Ase mustahil ditemukan. Penjual Bubur Ase bisa temukan di wilayah Tanah Abang, Kebon Kacang, Cempaka Putih hingga Kebayoran Lama.

Ia mengajak masyarakat yang mempunyai kemampuan atau keahlian dalam membuat Bubur Ase untuk menurunkan kepada pewarisnya. Melalui cara demikian, kuliner Betawi ini diharapkan bisa tetap lestari dan diminati dari generasi ke generasi.

"Bubur Ase sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda oleh Kementerian Kebudayaan beberapa waktu lalu. Saya harap semua stakeholder dapat meneruskan atau mempromosikan kuliner khas Betawi ini," tandas Yahya.