You don't have javascript enabled. Good luck with that.

For a better view,
please rotate your phone

Silat Cingkrik Goning Kedoya

Oleh :

Folmer

Selasa, 30 April 2024 | 1461

Betawi terkenal memiliki seni budaya silat berjumlah sekitar 300 aliran yang lahir dan populer di tengah masyarakat asli di Jakarta. Salah satu yang tersohor hingga saat ini yakni silat Cingkrik Goning.  

Silat Cingkrik Goning diperkenalkan oleh Ainin bin Urim, orang asli betawi yang lahir di Jalan Perjuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada tahun 1895. Kong Goning yang memiliki enam anak ini meninggal dunia di usia 80 tahun atau tahun 1975 dan dimakamkan di TPU Rawa Kopi, Kelurahan Kedoya Selatan. 

Perjalanan hidup seperti yang diceritakan keturunannya bahwa Ainin bin Urim saat muda lebih memilih belajar ilmu silat. Kong Goning berguru ke KH Kilin yang tinggal di Batu Ceper, Kota Tangerang, Banten. Sememtara, dua saudara kandung lainnya belajar ilmu agama. 

Setelah mahir bermain pukulan, Kong Goning kembali ke Jalan Perjuangan, Kebon Jeruk dan mengajarkan ilmu silat Cingkrik yang dimilikinya keluar masuk kampung di masa penjajahan hingga kemerdekaan.

Secara umum, silat Cingkrik Goning memiliki 12 jurus seperti Keset Bacok, Keset Gedor, lenggang Cingkrik, Langkah Tiga, Langkah Empat, Buka Satu, Saup, Macam, Tiktuk, Singa, Lokbe, dan Longok, Sambut Tujuh Muka, Sambut Gulung, dan Sambut Detik atau Sambut Tutup.  Adapun filosofi nama silat Cingkrik berasal dari gerakan atau jurus terlihat seperti kera yang sering melompat atau jingkrik.

Salah satu cicit dari Ainin bin Urim, Tirta Supriyadi saat ditemui beritajakarta.id mengulik sejarah silat tradisional Cingkrik di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dua tokoh  yang berperan mengajarkan ilmu silat Cingkrik pada masa penjajahan yakni Ki Sinan dan Ki Goning. 

"Hampir semua warga Kedoya, Kebon Jeruk di masa penjajahan saat itu belajar ilmu silat Cingkrik dari dua guru besar yakni Ki Sinan dan Ki Goning," ujar Tirta. 

Ia pun menceritakan perjalanan hidup Kong Goning yang mengembara keluar masuk kampung hingga beberapa minggu bahkan berbulan lamanya meninggalkan kampung halamannya di Jalan Perjuangan, Kebon Jeruk untuk mengajarkan warga berlatih ilmu silat Cingkrik bekal melawan penjajah.  

"Engkong berpesan kepada anak - anaknya, kalau gue pulang ya Alhamdulilah. Tapi jika tidak pulang, elu jangan cari. Berjalan kaki berpindah kampung untuk mengajar ilmu silat Cingkrik kepada banyak orang sehingga nama Goning melekat dalam sejarah silat tradisional asli betawi, Cingkrik," tuturnya. 

Ia menjelaskan, geakan silat Cingkrik Goning memiliki perbedaan dibandingkan aliran silat lainnya yakni memiiliki pola sangat unik karena saat menjalankan satu jurus yang dimulai dari satu titik, tapi belum tentu berakhir kembali di posisi awal seperti halnya seekor kera melompat. 

"Perbedaan lainnya yang mencolok di silat Cingkrik Goning yakni jurus lebih banyak menangkis pukulan untuk membuat jera lawan dan balik menyerang saat kondisi sudah terancam," jelas pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Jakarta Barat. 

Beberapa Cucu hingga cicit keturunan Ainin bin Urim termasuk Tirta Supriyadi hingga saat ini juga masih konsisten melestarikan ajaran 12 jurus silat Cingkrik Goning dengan membuka beberapa tempat latihan silat tradisional Betawi ini bagi warga Jakarta Barat. 

Tirta mengaku mulai berlatih silat Cingkrik sejak Sekolah Dasar (SD) dari almarhum Baba Ali, salah satu cucu yang belajar langsung dari Kong Goning. 

Sejak tahun 2011, Tirta bersama keturunan  Ainin bin Urim lainnya mulai membenahi dengan menbuat wadah badan hukum ke Kemenkum HAM dan menyusun materi pelatihan silat Cingkrik Goning. 

Dirinya hingga saat ini telah membuka beberapa tempat berlatih seni silat Cingkrik Goning untuk melatih puluhan anak dari SD hingga mahasiswa dan dosen di bawah naungan perguruan silat Keluarga Cingkrik Goning (KCG) di antaranya RPTRA Pandawa Kedoya dan Manunggal Meruya, SMPN 134 Meruya Ilir serta unit kegiatan mahasiswa (UKM) di Kampus Institut Sains dan Teknologi Al Kamal, Kedoya, Jakarta Barat. 

"Alhamdulilah, satu pesilat Cingkrik Goning  yang masih duduk di bangku SMP berhasil meraih prestasi juara umum kategori pencak silat pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tahun 2023. Tahun ini, satu pesilat Cingkring Goning juga akan ikut serta di kompetisi serupa," ungkap pria yang sehari - hari berprofesi sebagai tenaga pendidik di Institut Sains dan Teknologi Al Kamal, Jakarta Barat. 

Di akhir wawancara, Tirta menaruh harapan besar kepada Pemprov DKI agar pelatihan seni silat tradisional betawi menjadi salah satu muatan lokal di sekolah sebagai wujud nyata pelestarian budaya di Jakarta. 

Sebab, menurut Tirta, silat tradisional betawi selama ini diketahui saat kegiatan palang pintu yang digelar saat instansi pemerintah atau perorangan menggelar acara.

"Pelatihan seni silat tradisional betawi sejak dini sebagai muatan lokal sekolah diyakini menjadi salah satu upaya membentuk generasi muda beradab, berakhlak dan memiliki mental tangguh," tambahnya.