Svadara Menapak Pentas Dunia
Oleh :
Aldi Geri Lumban Tobing
Minggu, 21 Juni 2026 | 313
For a better view,
please rotate your phone
Aldi Geri Lumban Tobing
Minggu, 21 Juni 2026 | 313
Tangannya mulai mengayun. Pinggulnya melenggak-lenggok mengikuti irama lagu gambang keromong nan semarak. Langkah kakinya tampak lincah seolah tanpa lelah. Sesekali suara sang pelatih terdengar tegas dan ajeg memberikan aba-aba menjaga ketukan dasar tari dalam latihan sore itu.
Tak banyak yang menyangka, dari ruang latihan sederhana di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, lahir kelompok penari yang ikut mengenalkan budaya Betawi ke berbagai panggung internasional.
Adalah Svadara Warna Indonesia, sanggar tari yang selama lebih dari satu dekade konsisten melestarikan seni tari tradisional dengan pijakan utama budaya Betawi.
Langkah para penari Svadara menjadi bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya Indonesia, khususnya Jakarta, kepada dunia.
Berawal dari komunitas kecil yang dibentuk para alumni kampus, Svadara kini berkembang menjadi salah satu sanggar yang aktif memperkenalkan budaya Jakarta serta nusantara ke berbagai daerah hingga mancanegara.
Ketua Sanggar Svadara Warna Indonesia, Devi Alviani mengatakan, Sanggar Svadara bermula pada 2011. Saat itu, pendirinya yang baru menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi ingin tetap memiliki ruang untuk berkumpul dan berkarya bersama rekan-rekannya yang memiliki ketertarikan terhadap seni tari.
Nama Svadara sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang merupakan gabungan kata svara yang berarti nada dan ridama yang berarti irama. Filosofi tersebut menjadi identitas yang menyatukan para anggota dalam berkarya dan melestarikan budaya.
“Founder kita bikinlah sebuah sanggar yang juga dijadikan wadah perkumpulan dari alumni-alumni kampus sebelumnya. Dari situ kemudian menggaet seniman-seniman dan murid-murid yang dikenal saat itu, lalu berkumpul di Svadara,” ujar Devi, belum lama ini kepada beritajakarta.
Pada masa awal berdiri, jumlah anggota yang bergabung masih terbilang sedikit. Aktivitas latihan dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan berbagai lokasi di kawasan Mampang yang dapat digunakan sebagai tempat berkegiatan. Seiring berjalannya waktu, jumlah anggota terus bertambah. Saat ini, Svadara memiliki sekitar 250 anggota yang tersebar di tujuh cabang, mulai dari Jakarta Selatan hingga wilayah penyangga Jakarta.
“Member saat itu masih di bawah 20 orang. Memang masih berpencar dengan kesibukan masing-masing dan usianya juga beragam, mulai dari anak sekolah, mahasiswa sampai dewasa. Sampai tahun ini ada sekitar 250 anggota yang tergabung di Svadara dan tersebar di tujuh cabang,” katanya.
Perkembangan tersebut tidak lepas dari konsistensi Svadara dalam menampilkan karya-karyanya di berbagai ruang publik. Menariknya, sebagian besar anggota yang bergabung datang atas kemauan sendiri setelah melihat aktivitas dan penampilan Svadara secara langsung maupun melalui media sosial.
Meski kini telah berkembang cukup pesat, perjalanan Svadara tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang pernah mereka hadapi adalah saat pandemi Covid-19 yang menghentikan hampir seluruh aktivitas kesenian.
“Yang paling berasa itu saat Covid. Kegiatan belajar mengajar tari yang biasanya tatap muka harus dilakukan secara online. Sementara kegiatan pertunjukan yang menjadi ruang berkarya para seniman juga banyak yang berhenti,” tuturnya.
Bagi para pelaku seni, kondisi tersebut menjadi masa yang tidak mudah. Selain ruang berekspresi yang terbatas, berbagai kegiatan yang biasanya menjadi sumber penghasilan para seniman juga terhenti. Namun, kondisi tersebut tidak membuat para anggota menyerah. Kecintaan terhadap seni tari menjadi alasan utama mereka tetap bertahan di tengah berbagai keterbatasan.
“Modal utamanya adalah mereka memang sudah cinta dengan seni tari. Ketika tidak melakukan ini, rasanya ada yang kurang. Karena memang sudah menjadi bagian dari hidup mereka,” katanya.
Semangat itulah yang kemudian mengantarkan Svadara melangkah lebih jauh hingga ke panggung internasional. Jauh sebelum memiliki pengalaman seperti sekarang, para anggota sanggar harus berjuang mengumpulkan dana secara mandiri untuk mengikuti festival budaya di luar negeri. Mereka menyisihkan hasil pertunjukan, mencari sponsor, hingga melakukan berbagai kegiatan penggalangan dana agar dapat mewujudkan impian tampil di tingkat internasional.
“Di lima tahun awal, kami mencoba mengikuti festival internasional di Malaysia. Untuk berangkat saat itu kami mengumpulkan dana bersama-sama, mulai dari tampil di berbagai kegiatan sampai mencari sponsor,” ucapnya.
Perjuangan tersebut membuahkan hasil ketika Svadara mengikuti Sabah International Folklore Festival di Malaysia pada 2015. Dari ajang itu, langkah menuju panggung internasional mulai terbuka.
Dalam perkembangannya, Svadara terus aktif mengikuti berbagai festival, kompetisi, maupun misi budaya di luar negeri.
Hingga kini, Svadara tercatat pernah tampil di Malaysia, India, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Jerman, Australia, Sudan, dan Afrika Selatan. Di sejumlah kesempatan, Svadara tampil sebagai peserta kompetisi internasional. Pada kesempatan lain, Svadara juga dipercaya mewakili Indonesia dan Jakarta dalam berbagai kegiatan promosi budaya di mancanegara.
Dalam beberapa kesempatan, Svadara juga dipercaya mewakili Jakarta dalam berbagai misi budaya dan pertunjukan internasional. Kesempatan itu menjadi ruang bagi para penari untuk memperkenalkan budaya Betawi kepada masyarakat dunia sekaligus membawa nama baik Jakarta di panggung global.
Salah satu pencapaian yang paling membanggakan diraih pada 2024 saat mengikuti kompetisi internasional di Korea Selatan. Dalam ajang tersebut, Svadara berhasil meraih juara ketiga melalui penampilan yang memadukan berbagai tarian Nusantara, termasuk unsur Tari Betawi sebagai identitas Jakarta.
“Menurut saya, pencapaian yang paling berkesan adalah saat kami meraih juara ketiga di Korea Selatan pada 2024. Karena itu terjadi setelah masa sulit pandemi dan menjadi bukti bahwa usaha kami tidak sia-sia,” ucap Devi.
Selain Korea Selatan, Svadara juga tampil dalam berbagai kegiatan budaya internasional. Pada 2025, Svadara mendapat kesempatan tampil di Kyoto, Jepang, serta di Paviliun Indonesia pada ajang World Expo Osaka, salah satu pameran internasional terbesar di dunia. Kehadiran dalam forum internasional tersebut menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tetap memiliki ruang dan daya tarik di tengah pergaulan global.
Meski telah mempelajari beragam tarian dari berbagai daerah di Indonesia, Tari Betawi tetap menjadi fondasi utama pembelajaran di Svadara. Setiap anggota baru diwajibkan mempelajari dasar-dasar Tari Betawi sebelum mengenal materi lainnya.
Para penari di antaranya dikenalkan dengan Tari Ragam Dasar Betawi, Tari Topeng Gegot, Tari Renggong Manis, Tari Kreasi Kipas Ajer, dan Tari Kreasi Denok Jelantik.
Bagi Svadara, pelestarian budaya Betawi bukan sekadar menjaga tradisi, melainkan juga memperkenalkan identitas Jakarta kepada generasi muda. Di tengah keberagaman budaya yang tumbuh di ibu kota, keberadaan budaya Betawi tetap menjadi bagian penting dari karakter kota.
“Anak-anak yang masuk ke sini pasti kami kenalkan dulu dengan Tari Betawi. Karena selain menjadi identitas Jakarta, kami juga berada dan tumbuh di Jakarta,” ungkapnya.
Perjalanan Svadara hingga mampu tampil di berbagai negara juga tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan. Sebagai sanggar binaan, Svadara menerima berbagai bentuk dukungan, mulai dari pembinaan kelembagaan, fasilitasi kegiatan, promosi, hingga dukungan untuk kegiatan budaya di tingkat nasional dan internasional.
“Kami merasa Dinas Kebudayaan semakin mudah diakses. Ketika membutuhkan pembinaan atau dukungan kegiatan, kami bisa berkomunikasi dengan baik dan itu sangat membantu pelaku seni,” katanya.
Menurutnya, dukungan tersebut juga hadir dalam bentuk fasilitasi ruang pertunjukan, penyelenggaraan gelar pamit sebelum keberangkatan ke luar negeri, dukungan penggunaan kostum untuk kegiatan internasional, hingga hibah seperangkat alat musik Gambang Kromong yang kini digunakan sebagai sarana pembelajaran seni tradisional Betawi.
Di tengah berbagai capaian yang telah diraih, Svadara terus berupaya menjaga regenerasi pelaku seni. Dengan jumlah anggota yang kini mencapai ratusan orang, sanggar ini berusaha menciptakan lingkungan yang terbuka, ramah, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Berbagai program pelatihan, kolaborasi dengan seniman lain, hingga kesempatan mengikuti kompetisi di dalam maupun luar negeri menjadi bagian dari upaya untuk menjaga semangat para anggota agar terus berkembang.
Menjelang HUT ke-499 Kota Jakarta dan menyongsong lima abad Jakarta pada tahun depan, Devi berharap perhatian terhadap pelaku seni dan sanggar budaya terus diperkuat agar semakin banyak kelompok seni yang tumbuh dan berkembang.
Harapan tersebut sejalan dengan cita-cita Jakarta sebagai kota global yang tidak hanya maju secara ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga kuat dalam identitas budaya. Sebab, salah satu kekuatan kota-kota dunia terletak pada kemampuannya menjaga karakter dan warisan budaya di tengah arus globalisasi.
“Kalau mau dibilang Jakarta kota budaya, ya pelaku seni seperti yang ada di sanggar-sanggar inilah yang mengenalkan dan melestarikan budaya Jakarta, baik di dalam maupun luar negeri,” ungkapnya.
Tumbuh Bersama Svadara, Berkarya Harumkan Jakarta
Bagi Tri Widia Rahma, sanggar Svadara Warna Indonesia bukan sekadar tempat belajar menari. Sanggar itu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak kecil. Saat masih duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, Widia yang kala itu berusia 10 tahun diajak teman-temannya untuk melihat latihan di studio kecil Svadara di kawasan Mampang Prapatan. Tanpa pernah membayangkan, langkah sederhana itu menjadi awal perjalanannya di dunia seni tari hingga hari ini.
Selama lebih dari satu dekade bergabung, Widia tidak hanya menyaksikan perkembangan Svadara dari komunitas kecil menjadi sanggar dengan ratusan anggota dan sejumlah cabang, tetapi juga tumbuh bersama organisasi tersebut. Berbagai pengalaman tampil di panggung nasional maupun internasional menjadi bagian dari proses yang membentuk dirinya.
“Bersama Svadara, saya pernah tampil di Malam Puncak Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kyoto dan World Expo Osaka di Jepang, serta ajang pameran pariwisata internasional ITB Berlin di Jerman. Di dalam negeri, aku juga tampil di berbagai pementasan, mulai dari Hari Tari Sedunia di Solo, Galeri Indonesia Kaya, Taman Ismail Marzuki, hingga Gedung Wayang Orang Bharata,” ungkap mahasiswi semester empat Program Studi Manajemen Universitas Nasional tersebut.
Kesempatan tampil di berbagai panggung dunia menjadi pengalaman paling membekas baginya. Selain merasa bangga karena dapat memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional, Widia juga menganggap kesempatan tersebut sebagai bentuk kepercayaan yang tidak semua orang bisa dapatkan.
“Aku senang banget dan bangga bisa dipercaya mewakili Svadara dan Indonesia. Aku merasa beruntung karena bisa berkembang bersama-sama di Svadara dan dipercaya untuk ikut dalam acara-acara besar,” katanya.
Menurutnya, salah satu alasan yang membuatnya bertahan hingga sekarang adalah suasana kekeluargaan yang dibangun di dalam sanggar. Hubungan antara anggota, pelatih, dan pengurus tidak sekadar sebatas guru dan murid, melainkan tumbuh seperti sahabat yang saling mendukung untuk berkembang bersama.
“Aku ngerasa di Svadara itu lebih dirangkul dalam kekeluargaannya. Sama pelatih, pengurus, dan teman-teman, kita benar-benar merasa nyaman dan berkembang bersama,” ujarnya.
Kecintaan terhadap tari tradisional tumbuh seiring proses yang dijalaninya. Jika pada awalnya tari tradisional bukanlah hobi yang benar-benar diminati, lambat laun Ia menemukan keunikan dan keindahan yang tidak ditemukannya di bidang lain.
Baginya, tari tradisional tidak hanya mengajarkan gerakan, tetapi juga rasa, disiplin, kekompakan, hingga kemampuan lain yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Dari dunia tari, Widia belajar merias wajah dan kini bahkan membuka jasa rias untuk berbagai kegiatan.
“Tradisional itu cantik, indah banget. Dari gerakannya, kostumnya, sampai tata riasnya punya keunikan sendiri. Dari menari juga aku belajar banyak hal, termasuk make-up yang sekarang bisa jadi usaha buat aku,” tuturnya.
Menjelang usia Jakarta yang ke-500 tahun dan transformasi ibu kota sebagai kota global, Widia berharap kesenian tradisional tetap mendapat ruang di tengah pesatnya perkembangan zaman. Menurutnya, dukungan terhadap pelaku seni dan sanggar budaya perlu terus diperkuat agar generasi muda semakin mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri.
Baginya, kemajuan Jakarta sebagai kota global akan semakin bermakna ketika berjalan beriringan dengan pelestarian budaya yang menjadi identitas dan kebanggaan warganya.
“Semoga kesenian tradisional itu nggak berhenti di generasi kita saja. Harus terus dikenalkan ke generasi berikutnya supaya tetap hidup. Jakarta boleh semakin modern dan mendunia, tapi budaya tradisionalnya juga harus tetap ada dan dikenal masyarakat,” tandasnya.