Meluncurkan Kebahagiaan Sambil Bernostalgia
Oleh :
Aldi Geri Lumban Tobing
Minggu, 19 Juli 2026 | 307
For a better view,
please rotate your phone
Aldi Geri Lumban Tobing
Minggu, 19 Juli 2026 | 307
Sorak-sorai terdengar dari salah satu sudut ruang di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Kamis (16/7) malam itu. Gemanya, mengiringi denting benturan dua Beyblade yang saling beradu di atas arena kecil.
Di sisi lain, tampak sebagian orang berdiri menahan nafas, lalu bersorak serentak ketika Bayblade lawan terpental keluar arena. Sementara, pemilik Bayblade yang terpental, tetap tersenyum menerima kekalahannya. Tak ada kesedihan, semua menyatu dalam lingkar kebahagiaan.
Ya, suasana penuh keceriaan inilah yang tampak saat komunitas Beyblade Jakarta Selatan atau popular dengan sebutan BeyJaxel, menggelar weekly gathering saban Kamis di M Bloc Space.
Tak hanya menjadi ajang kompetisi, event weekly gathering ini juga menjadi wadah berkumpulnya para pencinta Beyblade dari berbagai penjuru Jabodetabek. Mereka bernostalgia, menggali memori sambil bermain dan bahagia bersama.
Di balik ramainya komunitas ini, ada sosok Arditya Bayu atau akrab disapa Abe yang memulai semuanya pada pertengahan 2024. Berawal dari sulitnya mencari komunitas Beyblade di Jakarta Selatan, Abe bahkan harus pergi ke Tangerang hanya untuk menemukan lawan bertanding. Seiring berjalannya waktu, Abe memutuskan untuk mengunggah ajakan melalui grup Facebook.
Tak disangka, unggahan sederhana tersebut mendapat respons luar biasa. Gathering pertama yang hanya dihadiri sekitar 30 orang kini berkembang menjadi komunitas dengan lebih dari 300 anggota.
“Dulu belum ada komunitas Beyblade di Jakarta Selatan. Kalau mau main, kami harus ke Tangerang. Akhirnya saya coba bikin komunitas sendiri lewat Facebook, ternyata yang tertarik banyak. Bukan cuma warga Jakarta Selatan, tapi juga orang-orang yang pulang kerja melewati kawasan ini,” ungkapnya.
Komunitas ini juga menjadi salah satu yang lebih dulu memanfaatkan media sosial dan website sebagai sarana pendaftaran anggota, informasi jadwal pertandingan, hingga sistem klasemen layaknya liga olahraga profesional.
Peserta dapat memantau jadwal pertandingan, lawan yang akan dihadapi, hingga posisi mereka di klasemen secara langsung. Sistem itu membuat permainan yang identik dengan mainan anak-anak terasa layaknya sebuah kompetisi olahraga.
Keseruan itu juga datang dari format turnamennya. Setiap gathering, peserta tidak hanya bermain untuk bersenang-senang, tetapi juga memperebutkan hadiah yang disiapkan panitia.
Semakin banyak peserta, semakin banyak pula pemenang yang membawa pulang hadiah. Agar tidak monoton, BeyJaxel rutin menghadirkan tema-tema unik, mulai dari penggunaan tipe Beyblade tertentu hingga konsep khusus yang membuat pertemuan berikutnya selalu menawarkan tantangan baru.
Berawal dari Permainan Tradisional
Menurut beberapa literasi, permainan Bayblade terinspirasi dari gasing tradisional Jepang bernama Beigoma. Kemudian, pada 1999, dikembangkan perusahaan Jepang, Takara Tomy, menjadi permainan gasing modern.
Permainan ini melibatkan dua pemain atau lebih yang meluncurkan gasing ke dalam arena khusus menggunakan alat pelontar atau launcher. Pemenang ditentukan jika berhasil melempar lawan keluar arena.
Beyblade telah berkembang melalui empat generasi. Generasi pertama berbahan plastik dengan cakram logam. Kemudian, berkembang generasi kedua, Metal Fight yang menggunakan material logam untuk benturan yang lebih intens.
Generasi ketiga, Beyblade Burst yang memiliki fitur di mana gasing akan hancur berkeping-keping jika terkena benturan keras. Generasi terbaru adalah Beyblade X yang memiliki fitur gir khusus untuk mendapatkan kecepatan super ekstrem.
Komponen Beyblade modern dirancang agar bisa dikustomisasi dan terdiri dari beberapa bagian utama yang dapat dibongkar pasang. Pada bagian atas (layer) dipasang untuk serangan kepada lawan atau sebagai pertahanan.
Lalu, bagian tengah berfungsi sebagai pemberat dan menentukan tinggi gasing. Selanjutnya, bagian ujung bawah yang bersentuhan dengan arena, sekaligus menentukan pola serangan, pertahanan atau keseimbangan.
Strategi Permainan
Bermain Bayblade bukan sekadar meluncurkan ke arena, tapi juga perlu strategi dan teknik serta meracik kombinasi komponen agar sesuai dengan gaya bermain.
Menurut Abe, pemain harus membaca karakter Beyblade lawan sebelum bertanding, menentukan taktik, sekaligus mengatur kekuatan saat melakukan launch. Perpaduan antara ketepatan teknik dan strategi inilah yang membuat setiap pertandingan terasa menegangkan dan sulit ditebak.
“Yang bikin seru itu bukan cuma menang atau kalah. Beyblade sekarang ada tekniknya, ada strateginya, ada skill-nya. Kita harus tahu cara launch, tahu karakter Beyblade, sampai menyusun kombinasi part yang tepat,” ujarnya.
Bernostalgia Sambil Olahraga
Hal lain yang membuat BeyJaxel terasa berbeda adalah keberagaman anggotanya. Di satu arena yang sama, anak-anak bisa bertanding melawan mahasiswa, pekerja kantoran, hingga orang dewasa. Bahkan, komunitas ini diikuti peserta lanjut usia yang masih aktif bermain.
Salah satunya adalah Lindawati, yang baru mengenal Beyblade sekitar dua bulan lalu. Awalnya, nenek berusia 65 tahun ini hanya mengantar anak dan menjaga cucunya bermain di arena.
Karena seringnya berada di sana, Linda penasaran dan akhirnya memberanikan diri mencoba bermain setelah diajari sang cucu. Meski sempat mengaku tidak bisa memainkan Beyblade, perlahan ia mulai menikmati setiap pertandingan.
Kini, setiap menemani anak dan cucunya bermain, ia tak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi juga ikut bertanding bersama peserta lainnya.
“Awalnya saya cuma nemenin anak sama cucu. Pas diajak nyoba saya bilang enggak bisa, terus diajarin sama cucu. Eh, ternyata lama-lama ketagihan. Sekarang kalau mereka main, saya sekalian ikut main juga,” ungkap Linda.
Tak butuh waktu lama baginya untuk jatuh hati pada permainan yang pernah populer di era 1990-an itu. Bahkan, dalam salah satu turnamen yang diikutinya, Linda berhasil finish di posisi keempat dari sekitar 70 peserta.
Baginya, Beyblade bukan sekadar permainan, tetapi juga menjadi sarana berolahraga ringan, melepas penat, sekaligus membangkitkan kenangan masa lalu.
“Buat saya ini olahraga juga. Mau menang atau kalah, yang penting keringatan pas narik Beyblade. Beyblade juga bikin kita nostalgia sama permainan zaman dulu. tutupnya.