Jakarta sebagai ibu kota negara menjadi episentrum penggerak giat literasi di Indonesia. Tidak hanya sebagai tempat dirumuskannya kumpulan kata penyala kemerdekaan berjudul Proklamasi, Jakarta juga menjadi rahim dilahirkannya Bataviasche Nouvelles, surat kabar pertama di Hindia Belanda, pada tahun 1744. Kemudian Balai Pustaka sebagai penerbit buku pertama dan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) juga didirikan di Jakarta.
Atas dasar sejarah panjang itulah, UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature atau Kota Sastra Dunia pada 8 November 2021. Jakarta termasuk ke dalam daftar 53 Kota Sastra Dunia yang tergabung dalam UNESCO’s Creative City Network dan menjadi kota pertama di Asia Tenggara yang meraih predikat tersebut.
Jakarta dengan segala infrastruktur dan sumber daya manusianya dianggap memiliki potensi besar untuk peningkatan dan pengembangan sastra dan literasi dunia, khususnya Indonesia. Selain itu, Jakarta juga memiliki ekosistem literasi yang kuat dengan banyak penerbit dan toko buku, serta fasilitas perpustakaan yang mendukung aktivitas baca dan diskusi. Berbagai pameran dan bazar buku berskala internasional juga rutin terselenggara di Jakarta.
Pada awal Mei tahun 2025, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperpanjang jam operasional perpustakaan hingga pukul 22.00. Selain berlaku pada Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin di Taman Ismail Marzuki, jam operasional malam hari juga berlaku pada perpustakaan di lima wilayah kota administrasi untuk memberikan akses kunjung perpustakaan yang lebih luas dan lebih lama bagi masyakarat.