Tidak banyak yang memahami, nelayan tradisional harus berhadapan dengan ganasnya ombak laut di samudera lepas dan mempertaruhkan nyawa demi memastikan kepulan asap dapur tetap terjaga.
Tantangan seperti inilah yang dialami Taufik. Pria kelahiran Buton, Sulawesi Tenggara ini mengadu nasib menjadi seorang nelayan pesisir di sudut kota Jakarta, tepatnya di Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara.
Nelayan kelahiran 1981 tersebut, setiap hari berangkat melaut bermodalkan tenaga, solar 15 liter dan logistik untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Ia berangkat sejauh enam kilometer dari daratan menuju samudera bersama rekan-rekannya.
Di tengah hantaman ombak dan cuaca tak menentu, Taufik menebar jaring sepanjang satu kilometer dengan harapan bisa membawa ikan yang banyak dengan sistem tebar jaring dua kali setiap pukul 18.00 dan 01.00 dini hari.
Taufik terus berjuang penuh harap tanpa jaminan selalu mendapat ikan dan melawan hawa dingin beserta deburan ombak yang menghantam kapal. Bagi seorang nelayan, laut tidak hanya tempat mengais rezeki, tapi secercah harapan untuk keberlanjutan hidup tanpa jaminan keselamatan dan bisa kembali pulang ke daratan.