Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan, Imlek bukan hanya perayaan etnis Tionghoa, tapi perayaan kota, milik semua warga. Namun, di balik kemeriahan ini, tersimpan sejarah panjang dan perjuangan. Imlek di Jakarta berawal dari kedatangan komunitas Tionghoa pada abad ke-17, ketika Batavia menjadi pusat perdagangan penting di Asia Tenggara. Kawasan Glodok tumbuh sebagai pusat pemukiman, perdagangan, dan budaya Tionghoa. Tapi, perjalanan Imlek di Jakarta tidak selalu mudah. Pada masa Orde Baru, ekspresi budaya Tionghoa dibatasi, perayaan Imlek hanya bisa dilakukan secara tertutup. Tapi, setelah era Reformasi 1998, Imlek kembali dirayakan dengan bebas, bahkan menjadi hari libur nasional pada tahun 2003. Kini, Imlek di Jakarta telah berkembang menjadi festival budaya yang melibatkan seluruh masyarakat. Instalasi seni digital, video mapping, flying drone LED dan festival cahaya menjadi bukti bagaimana tradisi lama bertransformasi mengikuti zaman.