You don't have javascript enabled. Good luck with that.

For a better view,
please rotate your phone

Di Balik Bilah Juleha

Di Balik Bilah Juleha

Oleh :

Reza Pratama Putra

Minggu, 24 Mei 2026 | 435

"Sesungguhnya kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah." (QS Al-Kautsar :1-2)

Setiap Hari Raya Iduladha, jutaan umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah kurban. Di balik pemandangan hewan yang disembelih dan daging yang dibagikan, ada satu sosok yang sering luput dari sorotan: juru sembelih. Mereka adalah orang-orang yang memastikan setiap tetes darah mengalir sesuai syariat dengan cara yang paling minim rasa sakit bagi hewan.

Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta

Kesadaran akan pentingnya cara sembelih yang sesuai syariat mendorong lahirnya komunitas Juru Sembelih Halal (Juleha). Gerakan ini diinisiasi komunitas pecinta golok di Malang yang prihatin melihat praktik penyembelihan kurang sesuai kaidah pada 2016 lalu. Pada 2017, komunitas tersebut resmi membentuk organisasi Juleha Indonesia. Fokusnya sederhana, tapi krusial: mencetak tenaga penyembelih yang paham hukum agama dan teknik penyembelihan yang benar. Materinya meliputi tajamnya pisau, posisi sembelihan hingga menenangkan hewan sebelum disembelih.

Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta

Pelatihan ini terus menyebar luas hingga ke Provinsi DKI Jakarta dan menarik minat salah satu pemuda bernama Risqi Mubaroq yang akrab disapa dengan nama Baroq. Pemuda kelahiran 17 Juli 2002 ini telah bergabung bersama Juleha Jakarta Timur sejak 2025. Meniti karir sebagai karyawan swasta tidak menutup minat Baroq menegakkan syariat Islam sebagai juru sembelih. Secara langsung ia belajar menyembelih bersama seorang guru yang juga pendiri Juru Sembelih Nahdatul Ulama Jakarta (Jusnu Jakarta) bernama KH Ahmad Mukhlis Fadhlil. Selama belajar, Baroq melatih kepiawaiannya memegang serta menjaga bilah pisau tetap dalam kondisi optimal.

Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta

"Tantangan terbesar itu saat ketemu hewan yang stres dan mengamuk. Suasananya ramai, berisik. Tapi kita dituntut tetap tenang,” kata Baroq. Bagi Baroq, satu goresan pisau bukan sekadar memotong urat nadi. Hal tersebut menjadi pertanggungjawaban besar kepada Sang Pencipta. Ketika darah mengalir dan detak jantung berhenti, ia merasakan getaran spiritual yang menyatukan kisah kepatuhan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail.

Bergabung dengan Juleha mengubah cara pandang Baroq. Di sini ia tidak hanya belajar mengasah pisau hingga setajam silet. Ia juga dibekali pemahaman tentang ihsan kepada hewan, bagaimana memperlakukan makhluk hidup dengan baik sampai detik terakhirnya.

Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta

“Bagi saya, jadi juru sembelih itu keseimbangan hidup. Kerja kantor memberi makan jasmani. Pengabdian di Juleha memberi nutrisi rohani,” ujarnya. Menjadi juru sembelih, menurutnya, bukan soal keahlian fisik semata. Ini panggilan jiwa. Setiap helai nafas hewan yang berakhir di bawah bilahnya, berubah menjadi daging halal yang membawa berkah bagi sesama.

Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta

Iduladha mengingatkan kita pada tiga nilai besar: ketauhidan, pengorbanan dan ketaatan. Nilai-nilai itu tidak hanya hidup di mimbar khutbah, tapi juga di tangan juru sembelih seperti Baroq yang menjaga agar syariat tetap terjaga di lapangan. Lewat bilah yang tajam dan hati yang ikhlas, mereka meneruskan warisan Nabi Ibrahim di tengah hiruk-pikuk Kota Jakarta.