"Tantangan terbesar itu saat ketemu hewan yang stres dan mengamuk. Suasananya ramai, berisik. Tapi kita dituntut tetap tenang,” kata Baroq. Bagi Baroq, satu goresan pisau bukan sekadar memotong urat nadi. Hal tersebut menjadi pertanggungjawaban besar kepada Sang Pencipta. Ketika darah mengalir dan detak jantung berhenti, ia merasakan getaran spiritual yang menyatukan kisah kepatuhan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail.
Bergabung dengan Juleha mengubah cara pandang Baroq. Di sini ia tidak hanya belajar mengasah pisau hingga setajam silet. Ia juga dibekali pemahaman tentang ihsan kepada hewan, bagaimana memperlakukan makhluk hidup dengan baik sampai detik terakhirnya.