Nasi Uduk Sultan Bikin Ketagihan
Oleh :
Budhi Firmansyah Surapati
Minggu, 23 Agustus 2026 | 215
For a better view,
please rotate your phone
Budhi Firmansyah Surapati
Minggu, 23 Agustus 2026 | 215
Matahari mulai menyinari, menerangi hari di kawasan Patal Senayan, Jakarta Selatan yang perlahan mulai ramai. Deru kendaraan bersahutan dengan aktivitas warga yang bergerak mengejar kesibukan masing-masing. Di tengah hiruk-pikuk itu, aroma nasi dan lauk yang baru matang menguar dari sebuah warung sederhana yang sudah berdiri sejak 1968.
Warung Babe Betawi Patal Senayan, begitu namanya dikenal. Dari luar, tempat makan ini masih tampil layaknya warung pinggir jalan. Tidak ada kesan mewah yang berlebihan. Namun, jangan buru-buru menilai dari penampilannya. Di balik kesederhanaan itu tersaji nasi uduk yang oleh para pelanggannya dikenal sebagai "nasi uduk sultan".
Warung tersebut mulai beroperasi sejak pukul 07.00 hingga sekitar pukul 13.00. Namun, bagi pemburu sarapan, datang terlalu siang bukan pilihan bijak. Nasi uduk yang setiap hari dibuat menggunakan sekitar 16 liter beras itu biasanya sudah ludes pada pukul 10.00 hingga 11.00.
Berbeda dari nasi uduk pada umumnya yang kerap ditemani bihun atau mi, orek tempe, telur, dan kerupuk, nasi uduk di Warung Babe Betawi justru disajikan sederhana. Sepiring nasi uduk hanya ditaburi bawang goreng.
Lauk menjadi pilihan tambahan. Ayam kampung, empal, paru, cumi, hingga jeroan goreng dapat dipilih sesuai selera. Lauk-pauk tersebut disajikan di piring terpisah dan kemudian disiram sambal kacang.
"Kalau sajian pakai bihun atau mi dan orek tempe itu mah nasi uduk kampung. Kalau kita beda," ujar pemilik Warung Babe Betawi Patal Senayan, Amran.
Resep Warisan Sejak 1968
Bagi Amran, cita rasa merawat kuliner khas Betawi yang tersaji di warung tersebut bukan sekadar resep dagang. Semuanya merupakan warisan dari kedua orang tuanya, Hamdani dan Maswani, yang merintis usaha tersebut pada 1968.
Meski keduanya sudah meninggal dunia pada 2010, resep dan cara penyajian yang diwariskan tetap dipertahankan. Amran mengatakan, istrinya, Nuryani turut menjaga agar cita rasa masakan tidak bergeser dari racikan awal.
Secara bahan dan metode memasak, nasi uduk yang dibuat tidak jauh berbeda dari nasi uduk pada umumnya. Namun, karakter hidangan muncul dari perpaduan lauk goreng dengan siraman sambal kacang.
Aroma nasi uduk yang gurih berpadu dengan harum lauk yang digoreng. Sambal kacang kemudian menjadi pengikat rasa, menghadirkan sensasi gurih, pedas, dan kaya rempah. Tambahan kecap kedelai memberikan sentuhan manis dan legit. Ketika sambal kacang bercampur dengan lauk, cita rasanya menjadi semakin kuat.
Bagi pelanggan yang menyukai rasa berempah, perpaduan tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Tidak mengherankan apabila belasan liter beras yang diolah setiap hari hampir selalu habis sebelum matahari meninggi terlalu jauh.
Selain nasi uduk, warung ini juga menyediakan nasi putih. Konsumen yang tidak ingin nasi uduk tetap dapat menikmati lauk yang sama.
"Kalau nasi putih, sama saja harganya dengan nasi uduk. Setiap hari nasi putih habis beras antara lima sampai enam literan," kata Amran.
Warung Babe Betawi Patal Senayan buka setiap Senin hingga Sabtu, kecuali hari libur nasional. Selama Ramadan hingga sekitar dua pekan setelah Idulfitri, warung tersebut juga tutup.
Harga Sultan, Warung Tetap Sederhana
Sebutan "nasi uduk sultan" bukan tanpa alasan. Jika hanya ingin mencicipi nasi uduk atau nasi putih tanpa lauk, pengunjung cukup membayar Rp10 ribu.
Namun, pengalaman berbeda terasa ketika nasi uduk dipadukan dengan lauk. Untuk ayam goreng kampung, misalnya, harganya Rp40 ribu per potong.
Empal dan paru goreng masing-masing dibanderol Rp30 ribu. Sementara cumi goreng ditawarkan dengan harga Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per porsi, tergantung ukurannya.
Ada pula tahu kari dan tahu semur seharga Rp5 ribu per potong. Kerupuk merah yang dikemas dalam plastik dijual dengan tambahan Rp5 ribu.
Untuk pencinta jeroan, tersedia usus, hati, dan ampela yang dapat dicampur dalam satu porsi seharga Rp10 ribu.
Dari berbagai pilihan tersebut, ayam goreng kampung menjadi salah satu menu yang paling banyak diminati. Setiap hari, setidaknya 10 ekor ayam digoreng dan habis terjual.
Jika ingin menikmati nasi uduk lengkap dengan lauk, pengunjung setidaknya perlu menyiapkan sekitar Rp50 ribu. Harga itu memang lebih tinggi dibandingkan sarapan nasi uduk pada umumnya. Namun, bagi pelanggan setia, pengalaman rasa menjadi alasan untuk kembali.
Dari Warga Biasa hingga Pejabat
Warung Babe Betawi Patal Senayan tidak pernah berpindah sejak kali pertama berdiri. Nuansa warung sederhana tetap dipertahankan meski pelanggan yang datang berasal dari berbagai kalangan.
Amran menuturkan, sebagian pelanggan datang menggunakan kendaraan roda empat. Tidak hanya pekerja kantoran, sejumlah tokoh dan pejabat juga disebut menjadi pelanggan.
Pesanan dari lingkungan DPR RI dan Polda Metro Jaya, menurut Amran, cukup rutin. Pesanan biasanya dibawa pulang, bukan disantap langsung di warung.
"Kalau dari DPR dan Polda tidak makan di tempat. Biasanya ada saja seminggu sekali itu pesanan dari sana," ujarnya.
Amran juga menyebut artis komedian kenamaan yang kini menjabat Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Cak Lontong juga menjadi sebagai salah satu pelanggan.
Seiring perkembangan zaman, Warung Babe Betawi Patal Senayan tidak hanya mengandalkan pelanggan yang datang langsung. Beberapa tahun terakhir, Amran juga menerima pesanan melalui telepon seluler dan WhatsApp di nomor 081317004227.
Pesanan dalam jumlah besar untuk berbagai acara juga dilayani. Namun, pelanggan diminta melakukan pemesanan jauh hari agar persiapannya dapat dilakukan dengan baik.
Sepiring Nasi, Sepenggal Cerita Keluarga
Lebih dari setengah abad bertahan, Warung Babe Betawi Patal Senayan bukan hanya tentang nasi uduk dan lauknya. Ada perjalanan keluarga yang ikut tersaji di balik setiap piring.
Usaha yang dirintis Hamdani dan Maswani sejak 1968 itu telah menjadi sumber penghidupan Amran dan keluarganya. Dari warung tersebut, ia dan Nuryani membesarkan tiga anak.
Anak sulung mereka bahkan telah menyelesaikan pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang dan kini sudah bekerja. Anak kedua masih bersekolah di SMK, sedangkan anak bungsunya duduk di bangku sekolah dasar.
"Ya alhamdulillah, yang besar sudah lulus dan bekerja. Kalau yang kedua sekolah di SMK dan yang kecil masih SD," tutur Amran.
Di tengah pagi Jakarta yang terus bergerak, warung sederhana itu seolah memiliki ritmenya sendiri. Ketika kendaraan mulai memenuhi jalan dan kesibukan kota meningkat, satu per satu piring nasi uduk berpindah dari tangan penjual kepada pelanggan.
Tidak ada sajian yang dibuat terlalu rumit. Hanya nasi uduk hangat bertabur bawang goreng, lauk goreng, dan sambal kacang yang kaya rempah.
Tetapi mungkin memang di situlah daya tariknya. Sebuah warung yang bertahan sejak 1968 tidak perlu banyak menjelaskan dirinya. Cukup aroma masakan dari dapur, piring yang segera kosong, dan pelanggan yang kembali lagi keesokan paginya. Mereka seolah ketagihan dengan cita rasa yang memanjakan lidah, sehingga harga tak lagi pernah menjadi soal.