You don't have javascript enabled. Good luck with that.

For a better view,
please rotate your phone

Syiar Islam di Masjid Lautze

Syiar Islam di Masjid Lautze

Oleh :

Nugroho Sejati

Minggu, 15 Maret 2026 | 485

Warnanya kuning menyala dihiasi garis-garis merah seperti bangunan khas negeri Tiongkok, seperti itulah penampakan visual Masjid Lautze yang berada di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Lokasinya yang berada di tengah kawasan pertokoan Pecinan Pasar Baru bagaikan lampu festival yang berkilau sendirian di antara bangunan kusam.

Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta

Masjid yang berada di Jalan Lautze nomor 87-89 ini tidak seperti kebanyakan masjid di Indonesia. Ia berdiri tanpa kubah dan menara penyiar azan, melainkan dengan atap Fei Yan khas negeri Tiongkok dengan sudut-sudut yang melengkung ke atas melambangkan keinginan manusia untuk terhubung dengan langit, keilahian dan spiritualitas. Hal itu menegaskan simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Islam yang berjalan penuh harmoni.

Secara khusus, Masjid Lautze hanya dibuka sejak pagi hingga sore hari. Kecuali hari Sabtu pada bulan Ramadan, pengurus mengadakan acara buka puasa bersama dan salat tarawih berjemaah yang mengundang warga-warga Tionghoa muslim yang tersebar di wilayah Jabodetabek, meski tidak menutup pintu bagi warga sekitar yang ingin bergabung.

Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta

Masjid ini didirikan pada tahun 1991, Masjid Lautze menempati sebuah bangunan rumah toko (ruko) yang diperluas menjadi dua bangunan ruko pada 1994 dan diresmikan oleh Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), B.J. Habibie, kala itu. Menempati bangunan berlantai empat, pengurus Yayasan Haji Karim Oei yang mendirikan dan mengelola Masjid Lautze membaginya menjadi dua lantai terbawah untuk ruang salat dan dua lantai lainnya sebagai kantor yayasan dan aula. 

Yayasan Haji Karim Oei merupakan yayasan yang diinisiasi oleh sejumlah tokoh dan organisasi Islam untuk mengenang jasa Abdul Karim Oei yang wafat pada tahun 1988. Abdul Karim Oei atau Oei Tjeng Hien merupakan tokoh muslim Tionghoa-Indonesia kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat yang berkawan karib dengan Presiden Sukarno dan Buya Hamka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia juga pernah menjabat sebagai Pimpinan Harian Masjid Istiqlal dan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. 

Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta

Sejak awal berdirinya, Yayasan Haji Karim Oei dicita-citakan sebagai salah satu pusat informasi Islam, khususnya bagi etnis Tionghoa di Indonesia. Hal tersebut dibarengi dengan pembangunan dan pengelolaan masjid bergaya arsitektur khas Tionghoa. Berjalannya waktu, Masjid Lautze merupakan salah satu masjid yang paling sering menjadi saksi bisu proses pemualafan etnis Tionghoa di Jakarta.

Paras Kota - Beritajakarta
Paras Kota - Beritajakarta

Yayasan Haji Karim Oei belakangan mulai meluaskan perannya sesuai dengan dinamika zaman. Pada awal berdirinya, Masjid Lautze bertujuan untuk menjadi pusat informasi Islam bagi kalangan etnis Tionghoa.

Lebih jauh dari itu, pengelola juga mendorong umat Islam secara luas agar dapat mengenal lebih dekat dengan budaya Tionghoa. Umat Islam yang menunaikan ibadah di Masjid Lautze dapat merasakan akulturasi budaya Tionghoa dan Islam dengan pajangan kaligrafi berbahasa Arab dan Mandarin yang ditulis dengan teknik penulisan kaligrafi negeri Tiongkok.

Paras Kota - Beritajakarta

 

Seiring dengan ribuan kali matahari bersinar di Sawah Besar, tercatat hampir dua ribu warga etnis Tionghoa telah melafalkan syahadat untuk menjadi mualaf di Masjid Lautze. Para mualaf maupun warga Tionghoa pemeluk Islam sejak lahir tersebut seperti menemukan rumah yang nyaman untuk menyerap cahaya Islam lebih dalam.