Masjid yang berada di Jalan Lautze nomor 87-89 ini tidak seperti kebanyakan masjid di Indonesia. Ia berdiri tanpa kubah dan menara penyiar azan, melainkan dengan atap Fei Yan khas negeri Tiongkok dengan sudut-sudut yang melengkung ke atas melambangkan keinginan manusia untuk terhubung dengan langit, keilahian dan spiritualitas. Hal itu menegaskan simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Islam yang berjalan penuh harmoni.
Secara khusus, Masjid Lautze hanya dibuka sejak pagi hingga sore hari. Kecuali hari Sabtu pada bulan Ramadan, pengurus mengadakan acara buka puasa bersama dan salat tarawih berjemaah yang mengundang warga-warga Tionghoa muslim yang tersebar di wilayah Jabodetabek, meski tidak menutup pintu bagi warga sekitar yang ingin bergabung.