Sarana Jaya Perkuat Pelestarian Budaya Betawi di Ruang Publik Perhotelan
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Perumda Sarana Jaya resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi, Kamis (12/2).
"PKS ini menjadi dasar operasional pelestarian Budaya Betawi,"
Penandatanganan ini menjadi wujud sinergi dalam menghadirkan ruang publik yang tidak hanya representatif secara fungsi, namun juga sarat nilai budaya lokal Betawi.
Direktur Utama Perumda Sarana Jaya, Bernard Yohanes mengatakan, penandatanganan Perjanjian Kerja Sama ini merupakan bagian dari implementasi kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menghadirkan ruang publik yang hidup, berkarakter, dan berakar pada nilai budaya lokal, khususnya Budaya Betawi, melalui pemanfaatan aset milik daerah.
Pemprov DKI Siap Kolaborasi Kembangkan Budaya Betawi“Penandatanganan PKS Pelestarian Kebudayaan Betawi pada hari ini merupakan tindak lanjut dari Kesepakatan Bersama yang telah ditetapkan sebelumnya. PKS ini menjadi dasar operasional pelestarian Budaya Betawi di lingkungan unit usaha perhotelan yang dikelola oleh Perumda Sarana Jaya,” ujar Bernard, di Novotel Jakarta Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.
Bernard menyampaikan, implementasi kerja sama tersebut dilaksanakan pada Novotel Jakarta Cikini, Hotel Mercure Jakarta Cikini, dan Veranda Hotel Pakubuwono, sebagai ruang publik strategis yang tidak hanya berfungsi sebagai entitas usaha, tetapi juga sebagai media edukasi budaya, kuliner, serta narasi sejarah Jakarta dalam konteks Provinsi DKI Jakarta.
“Hotel yang dikerjasamakan bersama mitra strategis Sarana Jaya tersebut akan kami imbau untuk turut mengimplementasikan nilai-nilai kebudayaan Betawi melalui berbagai program dan penyesuaian menu,” katanya.
Secara khusus di Novotel Jakarta Cikini, implementasi pelestarian Budaya Betawi dilakukan secara konsisten melalui showcasing UMKM booth - Batik Punta, penyajian menu-menu kuliner berciri heritage Betawi, serta penguatan narasi budaya dalam pengalaman tamu.
Selain itu, Novotel Jakarta Cikini juga memiliki program heritage walk yang mengajak pengunjung hotel untuk mengenal situs dan lokasi bernilai sejarah di kawasan Menteng dan Cikini.
Ia berharap, melalui pendekatan tersebut, pelestarian Budaya Betawi tidak hanya hadir sebagai ornamen, tetapi menjadi pengalaman yang hidup, edukatif, dan relevan bagi masyarakat serta pengunjung hotel.
“Menuju Lima Abad Jakarta, kami memandang ini sebagai momentum, bahwa pelestarian budaya tidak berhenti pada seremoni, melainkan harus menjadi bagian dari praktik pengelolaan aset daerah yang berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary menjelaskan, kerja sama tersebut merupakan langkah konkret dalam pemajuan kebudayaan Betawi di lingkungan unit usaha milik daerah.
Ia menyampaikan, bentuk kerja samanya antara lain menghadirkan sajian kuliner khas Betawi di hotel-hotel tersebut. Para tamu nantinya tidak hanya menikmati layanan perhotelan, tetapi juga dapat merasakan kekayaan cita rasa Betawi melalui menu yang disajikan.
Selain kuliner, penguatan identitas budaya juga diwujudkan melalui penataan interior dan ornamen khas Betawi, seperti kembang kelapa, ondel-ondel, batik, dan berbagai ikon budaya lainnya.
“Dekorasi ini diharapkan mampu menjadi media sosialisasi budaya kepada para tamu hotel, baik dari dalam maupun luar Jakarta,” ucapnya.
Miftah menambahkan, langkah ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 yang menegaskan bahwa budaya di Jakarta adalah budaya Betawi. Dengan demikian, pelestarian dan pemajuan Budaya Betawi menjadi tanggung jawab bersama, termasuk melalui pengelolaan ruang-ruang publik strategis seperti hotel.
“Melalui kolaborasi ini, Pemprov DKI Jakarta dan Perumda Sarana Jaya berharap nilai-nilai Budaya Betawi tidak hanya ditampilkan secara simbolik, tetapi benar-benar hidup dan menjadi bagian dari pengalaman masyarakat dalam menikmati ruang publik di Ibu Kota,” tandasnya.