Berbagai Karya Seni Rupa Kontemporer Dipamerkan di TIM
Puluhan karya seni rupa dari 20 seniman lokal maupun internasional, dipamerkan di komplek Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat.
Merepresentasikan identitas masyarakat urban
Pameran seni rupa kontemporer internasional bertajuk Jakarta Biennale 2026 yang digelar mulai 4 hingga 28 Oktober ini, mengusung tema kuratorial "Kebal".
Event ini merupakan hasil kolaborasi Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UP PKJ TIM), 16 kolektif seni yang tergabung dalam Majelis Jakarta, serta Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta.
Pameran Malangan Hadir di Museum Seni Rupa dan Keramik JakartaPerwakilan Majelis Jakarta, Bagus Purwoadi mengatakan, tema kuratorial "Kebal" dipilih untuk merepresentasikan identitas masyarakat urban, khususnya kelas pekerja.
" 20 seniman yang karyanya dipamerkan merupakan hasil keputusan dari hasil diskusi," ujar Bagus, Minggu (4/10).
Jakarta Biennale 2026, lanjut Bagus, juga menyelenggarakan "Ruang Tamu", yakni platform yang dikelola beberapa kolektif yang tergabung dalam Majelis Jakarta, antara lain: Artery Performa; Kedai Atelir Ceremai yang dikelola kolektif Atelir Ceremai
LHutan Mangrove dan Hutan Kota Pulau Pramuka yang dikelola kolektif Rumah Budaya Selat Bonot; Gudskul Ekosistem yang dikelola oleh kolektif Cut And Rescue
Lalu ada Kumpulan Bunyi Sunya, Posk Masyarakat Peduli Lingkungan Kali Krukut (MPLKK) yang dikelola kolektif Selarasa Foodlab dan Grafis Huru Hara, Panna Lab yang dikelola kolektif Panna Foto Institute, Neha Hub yang dikelola kolektif Creativite.
Selanjutnya ada Taman Stasiun Manggarai yang dikelola l kolektif Ngakarya, FSRD IKJ yang dikelola kolektif Sekolah Sablon Indonesia; Kelas Aktivisme Seni, dan Kosarupa; Rooftop Pasar Gembrong yang dikelola kolektif Festival Film Jelek, dan Outlier Café yang dikelola Balai Edukasi dan Ekosistem Kuningan.
"Selain Ruang Tamu, Jakarta Biennale juga merancang beberapa program publik berupa diskusi, lokakarya, performance art, pertunjukan musik, pameran serta beberapa aktivasi lainnya di antaranya bincang seniman dan lokakarya zine dan sebagainya," paparnya.
Sementara Ketua Komite Seni Rupa DKJ, Daniella Fitria Praptono berharap karya seni yang dipamerkan bisa jadi alat berkomunikasi dengan warga melalui program Ruang Tamu yang hadir di 13 titik kota Jakarta.
"Intinya adalah resilient dan harapan seni," tuturnya.
Kepala UP PKJ TIM, Harry Sanjaya menjelaskan, pameran ini merupaksn penyelenggaraan yang terencana, kolaboratif, dan responsif terhadap isu-isu aktual dan diharapkan mampu menghadirkan ruang dialog yang terbuka antara seniman, komunitas, dan masyarakat luas.
"Jakarta Biennale mengingatkan bahwa TIM bukan sekadar tempat memamerkan karya, tetapi ruang bertemunya seniman, komunitas, gagasan, dan masyarakat," ucap Harry.
"Kami ingin TIM terus menjadi rumah yang terbuka bagi perkembangan seni dan berbagai gagasan yang tumbuh di Jakarta," tandasnya.