Terminal Kampung Rambutan Sediakan Shelter Transportasi Daring
Pengelola Terminal Bus Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur, menyediakan fasilitas basecamp dan shelter bagi pengemudi ojek dan taksi daring. Fasilitas ini dihadirkan untuk memudahkan pengemudi dan penumpang bertemu sekaligus meningkatkan kenyamanan layanan transportasi di kawasan terminal.
"Menjemput penumpang"
Kepala Terminal Bus Kampung Rambutan, Revi Zulkarnain mengatakan, penyediaan fasilitas tersebut bertujuan agar pengemudi transportasi daring tidak lagi tercecer di jalan dan memiliki titik khusus untuk menunggu maupun menjemput penumpang.
Pembagian Masker dan CKG Dilakukan di Terminal Kampung Rambutan"Kita fasilitasi mereka dengan siapkan basecamp dan shelter bagi Ojol dan taksi online," ujarnya, Jumat (23/10).
Revi menjelaskan, basecamp ditempatkan di samping Pos Polisi Terminal Kampung Rambutan. Fasilitas tersebut dilengkapi empat tenda, meja, kursi, alat pengisi daya telepon seluler, serta kipas angin.
"Untuk shelter disediakan di area jalur pemberangkatan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Lokasi ini menjadi titik berkumpul pengemudi Ojol dan taksi online untuk menunggu pesanan maupun menjemput penumpang," terangnya.
Secara keseluruhan, lanjut Revi, terdapat 14 tenda berwarna hijau berukuran 3x3 meter yang disediakan di kawasan terminal. Seluruh tenda tersebut merupakan bantuan dari Grab dan Gojek, termasuk fasilitas pengisian daya telepon seluler dan bangku.
"Kami berencana menambah jumlah tenda guna memperluas titik layanan antarjemput penumpang transportasi daring," bebernya.
Salah seorang pengemudi taksi daring, Sutiyoso (54) mengaku terbantu dengan keberadaan shelter tersebut. Fasilitas ini memudahkan pengemudi dan penumpang menentukan lokasi pertemuan, terutama ketika penumpang baru tiba di terminal.
Ia menuturkan, penumpang dapat langsung menuju shelter untuk menunggu kendaraan yang dipesan. Bahkan, penumpang yang dijemput anggota keluarga juga bisa memanfaatkan fasilitas tersebut.
"Kadang ada juga calon penumpang yang meminta bantuan cara ordernya karena mereka tak mengerti," ucapnya.
Sutiyoso menambahkan, keberadaan shelter membuat pengemudi tidak lagi kebingungan mencari titik penjemputan.
"Sebelumnya saya kerap mengalami kesulitan ketika harus berkomunikasi dan menentukan lokasi pertemuan dengan calon penumpang," imbuhnya.
Sementara itu, pengguna jasa taksi daring, Ahmad Said Harahap (55) mengapresiasi keberadaan shelter karena memudahkan dirinya bersama keluarga menunggu kendaraan yang dipesan di lokasi yang sudah ditentukan.
"Tenda shelter ini cukup membantu kami, apalagi kami jauh dari Medan. Jadi kami tidak tersesat karena titik jemputnya jelas," tandasnya.