You don't have javascript enabled. Good luck with that.
Pencarian
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)
photo Istimewa - Beritajakarta.id

Legislator Tegaskan OMC Dilakukan dengan Kajian Matang

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike menyampaikan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah melalui kajian yang matang dan tidak dilakukan tanpa perhitungan dampak ke depan.

"Tidak mungkin dilakukan tanpa pertimbangan dampak lingkungan,"

Menurut Yuke, Pemprov DKI melakukan OMC bukan sekadar upaya untuk mengurangi atau “memundurkan” hujan, melainkan bagian dari strategi mitigasi bencana agar pemerintah memiliki waktu untuk melakukan langkah antisipasi di lapangan.

“OMC pasti sudah dikaji. Tidak mungkin dilakukan tanpa pertimbangan dampak lingkungan maupun siklus alam. Tujuannya bukan menunda hujan lalu menimbulkan masalah di kemudian hari, tetapi memberi waktu untuk mitigasi,” jelas Yuke, Kamis (29/1).

Pramono Perpanjang Masa PJJ Sampai 1 Februari

Menurutnya, jeda waktu yang dihasilkan dari OMC dapat dimanfaatkan untuk menyiapkan langkah-langkah darurat, seperti penguatan tanggul sementara, pemasangan bronjong, hingga penanganan titik-titik rawan banjir sebelum curah hujan kembali meningkat.

“Paling tidak kita bisa ‘ambil napas’ sebentar untuk menyiapkan langkah antisipasi, supaya ketika hujan datang lagi dampaknya tidak semakin parah,” katanya.

Meski demikian, Yuke menegaskan, bahwa OMC tidak bisa dijadikan satu-satunya solusi pengendalian banjir. Selain membutuhkan biaya yang besar, kebijakan ini juga harus didasarkan pada penelitian, kajian teknis, serta koordinasi yang matang dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Tidak semua hal bisa kita andalkan dari modifikasi cuaca. Pemprov tentu menentukan waktu pelaksanaan OMC berdasarkan kajian dan koordinasi dengan BMKG,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yuke menilai, Pemprov DKI telah melakukan berbagai upaya dalam mengoptimalkan infrastruktur pengendali banjir, mulai dari perbaikan drainase skala mikro, pembangunan waduk dan polder, hingga penguatan tanggul pantai.

Namun ke depan, ia menekankan, pentingnya perhatian serius terhadap saluran air di kawasan permukiman padat penduduk yang kerap menjadi sumber persoalan.

“Justru di permukiman padat, masalahnya sering ada di saluran-saluran kecil. Sungai besar kita bermasalah, kali-kali kecil juga harus benar-benar diperhatikan dan dicarikan solusinya,” tandasnya.

Berita Terkait
Berita Terpopuler indeks
  1. LRT Rute Kelapa Gading-Manggarai Siap Beroperasi Penuh 26 Agustus

    access_time24-08-2026 remove_red_eye2127 personDessy Suciati
  2. Lomba Dayung di Pasar Baru Digelar Akhir Agustus

    access_time20-08-2026 remove_red_eye1647 personFolmer
  3. Resmikan RS Toto Tentrem, Pramono Dorong Kerja Sama dengan RSUD Tarakan

    access_time24-08-2026 remove_red_eye1290 personDessy Suciati
  4. LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai Siap Diresmikan 26 Agustus

    access_time22-08-2026 remove_red_eye1217 personDessy Suciati
  5. Asyik, Sekarang Ada Bioskop Mini di Rusun Pasar Rumput

    access_time24-08-2026 remove_red_eye935 personBudhi Firmansyah Surapati