Jelang Lebaran Bawa Cuan Pelaku Usaha Kue Rumahan di Kepulauan Seribu
Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, usaha pembuatan kue Lebaran rumahan milik warga di Kepulauan Seribu mulai menggeliat. Momentum akhir Ramadan dimanfaatkan masyarakat untuk menambah penghasilan keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan kue kering yang identik dengan perayaan Lebaran.
"Sudah lebih dari 500 toples"
Salah seorang warga Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Juriah (36) menuturkan, sudah menekuni usaha pembuatan kue Lebaran sejak tahun 2007 dan hingga kini tetap konsisten melayani pesanan pelanggan setiap tahunnya.
Pembuat Kue Kering Kwitang Kebanjiran OrderPemilik usaha Yasmin Cake and Cookies itu mengaku penjualan kue kering buatannya tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga pertengahan Ramadan, jumlah pesanan bahkan telah menembus lebih dari 500 toples.
"Alhamdulillah tahun ini permintaannya meningkat. Tahun lalu sekitar 400 toples lebih, sekarang sudah lebih dari 500 toples," ujarnya, Selasa (17/3).
Juriah menjelaskan, terdapat sekitar 10 jenis kue kering yang diproduksi untuk memenuhi permintaan pelanggan. Beberapa di antaranya adalah nastar, putri salju, kastengel, bola cokelat, semprit original, semprit cokelat, sagu keju, choco stik, serta lidah kucing yang menjadi menu baru pada tahun ini.
"Nastar masih menjadi primadona karena paling banyak diminati pembeli. Alhamdulillah menu baru saya, lidah kucing juga langsung diminati konsumen," terangnya.
Untuk memasarkan produknya, Juriah mengatakan, memanfaatkan media sosial sederhana seperti status WhatsApp. Cara tersebut terbukti efektif menjaring lebih dari 150 pelanggan, sebagian besar merupakan pelanggan tetap yang rutin memesan setiap tahun menjelang Lebaran.
Menariknya, meski harga bahan baku mengalami kenaikan, Juriah memilih tidak menaikkan harga jual kue buatannya. Saat ini harga kue yang dijual masih berkisar antara Rp 40 ribu hingga Rp 65 ribu per toples.
"Ada kenaikan bahan baku, tetapi harga cookies tidak saya naikkan. Tidak apa-apa untung sedikit yang penting konsumen tetap senang," ungkapnya.
Dari usaha musiman tersebut, Juriah menyampaikan, mampu meraih laba bersih hampir Rp 10 juta setiap musim Lebaran. Keuntungan tersebut digunakan untuk menambah modal usaha, menabung, serta berbagi dengan sesama.
"Tentu saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada semua pelanggan setia yang telah memesan kue saya," imbuhnya.
Hal senada juga dirasakan Fitri Novianti (32), warga Pulau Panggang yang telah menjalankan usaha kue Lebaran sejak tahun 2017 dengan brand Juna Cookies. Ia memproduksi beberapa jenis kue favorit Lebaran seperti nastar, putri salju, dan kastengel.
Fitri menjelaskan, sistem penjualan dilakukan melalui pre-order (PO) yang biasanya dibuka sejak awal Ramadan. Proses produksi kue dilakukan pada pertengahan bulan puasa untuk memenuhi pesanan pelanggan.
"Setiap buka PO selalu ada pembeli. Saat ini sudah ada pelanggan tetap sekitar 20 sampai 30 orang," ucapnya.
Menurutnya, pemasaran melalui media sosial, salah satunya Facebook, dengan harga berkisar Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per toples. Ia juga memastikan bahan baku yang digunakan memiliki kualitas premium agar rasa dan mutu produk tetap terjaga.
Fitri menambahkan, meskipun tahun ini terjadi kenaikan harga bahan baku, kenaikannya tidak terlalu signifikan sehingga tidak terlalu memengaruhi harga jual.
"Terpenting kualitas tetap terjaga agar pelanggan tetap percaya dengan produk yang kami buat," tuturnya.
Dari usaha tersebut, Fitri memaparkan, mampu meraih omzet sekitar Rp 3 juta hingga Rp 4 juta setiap musim Lebaran. Selain memproduksi kue kering, ia juga menjual donat serta minuman kekinian setiap hari untuk menambah pemasukan.
"Semoga usaha yang saya jalankan ini dapat terus berkembang dan penjualan kue Lebaran setiap tahun semakin meningkat," tandasnya.