Ratusan Pelajar SDIT Al Muhajirin Diedukasi Kebencanaan
Sebanyak 350 pelajar Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Muhajirin di Jalan Tunda, Kelurahan Rawabadak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, mengikuti kegiatan sosialisasi dan simulasi kebencanaan yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta.
"Kesiapsiagaan bencana"
Kepala Satuan Tugas BPBD Jakarta Utara, Vitus Dwi Indarto mengatakan sosialisasi ini difokuskan pada pengenalan dasar kebencanaan serta langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi situasi darurat, khususnya gempa bumi.
150 Personel Gabungan Ikuti Simulasi Kesiapsiagaan Bencana di Rawajati"Kami memberikan edukasi kepada seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga karyawan. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan sarana dan prasarana penyelamatan (rescue), serta simulasi teknik evakuasi saat terjadi gempa bumi," ujarnya, Rabu (15/4).
Ia menambahkan, dalam simulasi tersebut para pelajar diajarkan cara menyelamatkan diri saat gempa, seperti berlindung di bawah meja, melindungi kepala, serta mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul yang telah ditentukan.
"Para guru juga dibekali pemahaman mengenai prosedur tanggap darurat, termasuk cara mengarahkan peserta didik agar saat terjadi bencana, proses evakuasi berjalan tertib dan aman," terangnya.
Menurutnya, edukasi kebencanaan sangat penting diberikan sejak usia dini agar tertanam menjadi kebiasaan dan refleks saat menghadapi kondisi darurat.
Ia berharap, kegiatan ini tidak hanya berhenti di sekolah, tetapi juga dapat diterapkan di rumah dan lingkungan sekitar.
"Anak-anak diharapkan menjadi agen informasi bagi keluarga mereka terkait kesiapsiagaan bencana," ungkapnya.
Kepala SDIT Al Muhajirin, Didik Iwan Sutiawan menyampaikan, kegiatan ini merupakan pengalaman pertama bagi pihak sekolah bekerja sama dengan BPBD yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman seluruh warga sekolah terhadap potensi bencana.
"Kegiatan hari ini diikuti sekitar 350 pelajar. Materi yang diberikan sangat penting bagi kami semua. Semoga kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara berkala agar kesiapsiagaan menjadi bagian dari budaya sekolah," imbuhnya.
Sementara itu, salah seorang pelajar kelas V, Bagas Satrio Bagaskara (11) mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan terebut karena membuatnya lebih memahami cara menghadapi bencana.
"Saya senang bisa ikut simulasi bersama teman-teman. Jadi tahu yang harus dilakukan saat gempa, seperti berlindung dan mengikuti jalur evakuasi. Kegiatan ini menambah wawasan saya," tandasnya.