Dukung Pemprov DKI, Pakar UI Tekankan Pentingnya Pengendalian Ikan Sapu-Sapu
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah menggencarkan upaya pengendalian ikan sapu-sapu di perairan Jakarta, seperti aliran sungai maupun selokan. Langkah ini diambil untuk menekan populasi ikan invasif yang dinilai telah merusak keseimbangan ekosistem air di Jakarta.
"ikan sapu-sapu ini cukup berbahaya secara ekologis,"
Pakar Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (UI), Mahawan Karuniasa menjelaskan, dominasi ikan sapu-sapu ini telah menganggu struktur ekosistem sungai-sungai di Jakarta.
"Memang ikan sapu-sapu ini cukup berbahaya secara ekologis ya, terutama kalau mendominasi populasinya, mendominasi komunitas ikan, khususnya di ekosistem sungai," ujar Mahawan saat dihubungi, Selasa (21/4).
Hasil Tangkapan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Capai 6,98 TonMenurut Mahawan, bahaya utama dari dominasi ikan sapu-sapu yakni pada kemampuannya dalam bersaing dengan ikan-ikan lain, terutama dalam hal ruang dan makanan. Kondisi ini pun akan berdampak pada pengembangbiakan ikan lokal.
"Yang pertama kompetisi ruang dan pakan dengan ikan lokal, ikan asli ekosistem air sungai itu. Sehingga ada beberapa gangguan di pengembangbiakan, mulai dari telur dan fase-fase pertumbuhan ikan lokal," tuturnya.
Tak hanya itu, ikan sapu-sapu ini juga tidak layak untuk dikonsumsi karena mengandung zat pencemar yang berbahaya.
Sebagai spesies yang memiliki toleransi lingkungan yang sangat tinggi, ikan sapu-sapu mampu bertahan hidup di perairan dengan kadar polusi tinggi. Kondisi ini membuat pemulihan komunitas ikan asli akan menjadi semakin sulit.
Mahawan pun mengapresiasi upaya Pemprov DKI dalam menekan populasi ikan sapu-sapu. Meski demikian, menurutnya diperlukan strategi jangka panjang untuk mengurangi dominasi ikan ini, mengingat spesies ini sangat kuat dalam bertahan hidup.
Ikan sapu-sapu bisa bertahan hidup di kondisi perairan yang beragam, baik di perairan dengan kualitas baik maupun di perairan yang sudah tercemar dan minim oksigen.
"Karena memang spesies ini punya toleransi yang tinggi terhadap lingkungan, berkembang biak dengan baik, dan juga antara lain mampu membuat sarang di tebing sungai dan seterusnya," ungkapnya.
Mahawan juga menilai kebijakan Pemprov DKI dalam penanganan hasil tangkapan ikan sapu-sapu telah dilakukan secara terkontrol, yakni melalui pemusnahan dan kemudian dikubur.
Ia pun menekankan pentingnya upaya pengendalian aktif populasi ikan invasif ini, yakni melalui perlindungan terhadap ikan lokal dan pencegahan pelepasan baru spesies ikan yang bukan pada habitatnya.
Selain itu, penangkapan secara masif perlu dilakukan, terutama pada sarang ikan serta saat musim reproduksi untuk mengurangi populasinya.
Ia juga menyarankan agar dilakukan penguatan komunitas spesies ikan lokal saat populasi ikan sapu-sapu sudah berkurang serta perbaikan ekosistem perairan.
"Jika memungkinkan ada semacam restocking spesies lokal yang memang benar-benar berbasis ilmiah bahwa memang spesies itu ada di situ, ditambahkan ikannya," tandasnya.