You don't have javascript enabled. Good luck with that.
Pencarian
Waduk Setu Jadi Pusat Pengolahan Sampah Daun Menjadi Kompos
photo Nurito - Beritajakarta.id

Waduk Setu Dijadikan Sentra Pengolahan Kompos

Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, menjadikan area Waduk Setu sebagai pusat pengolahan sampah daun menjadi kompos. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sekaligus mendukung program pengelolaan sampah dari sumber.

"Kami menyiapkan tiga lubang besar di area Waduk Setu"

Lurah Setu, Dwi Widiastuti mengatakan, program tersebut memanfaatkan sampah dedaunan hasil penyapuan jalan yang setiap hari dikumpulkan oleh petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

Pemprov DKI Komitmen Masifkan Pengolahan Sampah Organik

Menurutnya, sampah daun yang sebelumnya berpotensi menjadi beban pengangkutan ke TPST Bantar Gebang kini diolah menjadi kompos yang memiliki nilai manfaat bagi lingkungan.

"Kami menyiapkan tiga lubang besar di area Waduk Setu sebagai tempat pengolahan sampah dedaunan menjadi kompos. Ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke Bantar Gebang," ujarnya, Kamis (4/6).

Dwi menjelaskan, tiga lubang yang disiapkan masing-masing berukuran sekitar 4x2 meter dengan kedalaman satu meter. Sampah dedaunan ditimbun di dalam lubang, kemudian ditutup rapat menggunakan terpal untuk mempercepat proses penguraian.

"Proses diprakirakan pengomposan membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga menghasilkan kompos yang siap digunakan. Hasil kompos nantinya akan dimanfaatkan sebagai pupuk untuk mendukung kegiatan urban farming di wilayah Kelurahan Setu," terangnya.

Ia menuturkan, untuk mendukung program tersebut, sekitar 10 petugas PPSU ditugaskan setiap hari menangani pengumpulan dan pengolahan sampah daun di area Waduk Setu.

Selain mengelola sampah dedaunan, Kelurahan Setu juga terus mengoptimalkan pemilahan sampah organik dapur (SOD) dari rumah tangga. 

"Saat ini, volume sampah organik dapur yang berhasil dikumpulkan dari warga mencapai sekitar 1,6 hingga 2,6 ton per hari yang berasal dari 44 RT di enam RW," ungkapnya.

Ia menuturkan, Sampah organik tersebut kemudian diangkut oleh Satuan Tugas Lingkungan Hidup untuk dibawa ke fasilitas pengolahan milik Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur. 

"Sampah selanjutnya diolah menjadi bubur sampah yang dimanfaatkan sebagai pakan maggot," ucapnya.

Dalam mendukung program pengelolaan sampah organik, lanjut Dwi, Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur sudah memberikan bantuan 30 tong sampah yang ditempatkan di enam RW. 

"Pihak kelurahan juga menambah 40 ember bekas cat yang dimanfaatkan sebagai wadah penampungan sampah organik dapur," imbuhnya.

Dwi berharap, berbagai upaya yang dilakukan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah serta mendukung pengurangan volume sampah yang dikirim ke TPST Bantar Gebang.

"Melalui pengolahan sampah daun menjadi kompos dan pemilahan sampah organik dapur, kami ingin membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih baik sekaligus menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan," tandasnya.

Berita Terkait
Berita Terpopuler indeks
  1. LRT Rute Kelapa Gading-Manggarai Siap Beroperasi Penuh 26 Agustus

    access_time24-08-2026 remove_red_eye2016 personDessy Suciati
  2. Lomba Dayung di Pasar Baru Digelar Akhir Agustus

    access_time20-08-2026 remove_red_eye1606 personFolmer
  3. Ketua RW dan LMK di Susukan Adu Jago Bikin Nasi Goreng

    access_time19-08-2026 remove_red_eye1206 personNurito
  4. LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai Siap Diresmikan 26 Agustus

    access_time22-08-2026 remove_red_eye1170 personDessy Suciati
  5. Resmikan RS Toto Tentrem, Pramono Dorong Kerja Sama dengan RSUD Tarakan

    access_time24-08-2026 remove_red_eye1038 personDessy Suciati