You don't have javascript enabled. Good luck with that.
Pencarian
IMG 20260716 WA0031
photo Istimewa - Beritajakarta.id

Ali Sadikin Meletakkan Fondasi Kebudayaan Jakarta

Rangkaian peringatan 100 Tahun Ali Sadikin yang berlangsung pada 7–14 Juli 2026 resmi ditutup dengan sesi Memorial Lecture yang menghadirkan Mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo (Foke).

"Kebudayaan adalah barang publik,"

Dalam pemaparannya, Foke menegaskan peran besar Ali Sadikin dalam meletakkan fondasi pembangunan kebudayaan Jakarta dengan menempatkan seni sebagai hak publik yang sejajar dengan kesehatan dan pendidikan.

Foke juga mengusulkan agar Memorial Lecture menjadi agenda tahunan mulai tahun depan sebagai bagian dari rangkaian menuju peringatan 500 tahun Kota Jakarta. Menurutnya, Ali Sadikin bukan sekadar pemimpin daerah, tetapi seorang negarawan yang memiliki visi jauh ke depan dan diakui dunia.

Peringatan 100 Tahun, Pemprov DKI Komitmen Lanjutkan Legasi Ali Sadikin

Salah satu warisan terpenting Bang Ali, lanjut Foke, adalah keberaniannya menetapkan kebudayaan sebagai public good atau barang publik sejak 1968.

"Kebudayaan ini utamanya adalah sebuah barang publik. Dia tidak harus mendatangkan keuntungan, tapi wajib ada," ujar Foke, Kamis (16/7).

Prinsip tersebut menjadi pijakan Ali Sadikin saat mendirikan Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kesenian Jakarta.

Foke menceritakan, gagasan membangun TIM berawal dari pertanyaan sederhana Bang Ali kepada para seniman.

"Dulu itu di Senen seniman-seniman pada ngumpul, sekarang pada ngumpul di mana?" kata Foke menirukan ucapan Bang Ali.

Pertanyaan itu kemudian melahirkan gagasan menyediakan ruang bagi ekosistem seni di bekas kawasan Kebun Binatang Cikini.

Menurut Foke, bagi Ali Sadikin, membangun gedung saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah menjamin kebebasan para seniman untuk berkarya tanpa campur tangan pemerintah.

Ia pun mengutip salah satu pernyataan ikonik Bang Ali, "Pemerintah tidak boleh ikut campur dan menentukan. Biar para seniman itu sendiri, bebas. Mereka merdeka dalam mencipta".

Prinsip tersebut menjadikan TIM bukan sekadar kompleks pertunjukan seni, melainkan wujud tanggung jawab negara dalam menyediakan ruang kreativitas bagi masyarakat. Di tengah keterbatasan anggaran pada awal masa kepemimpinannya, Ali Sadikin membuktikan bahwa visi yang kuat mampu melahirkan pembangunan besar.

Foke menyebut, Bang Ali sebagai sosok yang selalu thinking out of the box, mulai dari menjadi pelopor penggunaan komputer di pemerintahan pada 1969 hingga menyusun master plan pembangunan Jakarta secara komprehensif.

"Beliau adalah seorang pribadi yang sangat kokoh akan keyakinannya. Kalau dia sudah yakin, dia akan mempertahankan itu dan konsisten mempertahankannya sampai kapan pun," kenang Foke.

Menurut Foke, gagasan Ali Sadikin tentang kemandirian seniman dan pelestarian warisan budaya (heritage) tetap relevan di era digital. Sebab itu, ia berharap, nilai-nilai kebebasan berkarya serta dukungan pemerintah terhadap kebudayaan terus dijaga sebagai warisan yang berkelanjutan.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Jakarta sebagai kota yang maju tanpa meninggalkan akar budayanya.

"Saya yakin sampai sekarang tidak ada simbol yang lebih kuat untuk menggambarkan visi kebudayaan Bang Ali selain Taman Ismail Marzuki," tandasnya.

Berita Terkait
Berita Terpopuler indeks
  1. Kebayoran Lama Selatan Miliki 56 Tempat Pengelolaan Sampah Organik

    access_time11-07-2026 remove_red_eye7849 personTiyo Surya Sakti
  2. Pengemudi Truk Sampah Salahgunakan BBM Operasional di Cilincing Disanksi

    access_time14-07-2026 remove_red_eye6698 personAnita Karyati
  3. Kelurahan Berprestasi Jadi Penggerak Jakarta Menuju 20 Besar Kota Global

    access_time13-07-2026 remove_red_eye1736 personFakhrizal Fakhri
  4. SDN Srengseng Sawah 15 Tetap Gelar Sekolah Tatap Muka

    access_time13-07-2026 remove_red_eye1508 personDessy Suciati
  5. DPRD DKI Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi Daerah

    access_time14-07-2026 remove_red_eye1421 personFakhrizal Fakhri