Jakpro dan Seniman Perkuat TIM sebagai Ruang Kolaborasi
Taman Ismail Marzuki (TIM) terus memperkuat perannya sebagai ruang seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan dan kegiatan kebudayaan, tetapi juga menjadi tempat bertemunya, berinteraksi, dan membangun jejaring bagi para seniman dari berbagai daerah hingga mancanegara.
"semakin inklusif dan terbuka bagi berbagai kalangan,"
Dengan fasilitas seni dan ruang publik yang semakin lengkap dan terintegrasi, TIM memberikan kesempatan bagi para pelaku seni untuk berkolaborasi, bertukar gagasan, serta membangun relasi lintas komunitas.
Head of SBU TIM, PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro, Anya Aprilia mengatakan, ekosistem ini semakin diperkuat dengan kehadiran Paviliun Raden Saleh (PRS) yang menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas dan kebutuhan para seniman yang berkunjung ke TIM.
Buka JICAF 2025, Pramono Ajak Seniman Rancang Perayaan Jakarta 500 TahunIa menyampaikan, PRS dirancang dengan memperhatikan karakteristik TIM sebagai salah satu ruang berkumpulnya para seniman.
“Kehadiran fasilitas tersebut memungkinkan seniman dari luar Jakarta, bahkan dari luar negeri, mendapatkan tempat yang mendukung selama berkegiatan di kawasan TIM,” ujarnya, Kamis (3/9).
Anya menjelaskan, dengan fasilitas yang semakin memadai, nyaman, dan akomodatif, TIM memberikan ruang yang lebih luas bagi seniman untuk berkarya, berkolaborasi, berdiskusi, dan membangun jejaring. Ia menambahkan, kehadiran berbagai fasilitas pendukung juga menjadikan TIM sebagai rumah bersama bagi ekosistem seni dan budaya.
“Yang tidak kalah penting, TIM kini hadir sebagai ruang yang semakin inklusif dan terbuka bagi berbagai kalangan. Di dalamnya terdapat beragam narasi seni dan budaya yang memperkaya wajah Jakarta sekaligus memperkuat identitas kota,” jelasnya.
Ia mengatakan, salah satu wujud nyata kolaborasi antara Jakpro dan para seniman dapat dilihat dari penyelenggaraan Pameran Seni Rupa ‘100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta’.
Pameran ini berlangsung di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mulai 20 November hingga 10 Desember 2026, dan dikuratori oleh Syakieb Sungkar.
Mengusung semangat mengenang warisan sekaligus menggagas masa depan Jakarta sebagai kota seni dan kota budaya, pameran ini menghadirkan karya dari 35 seniman partisipan yang datang dari tiga kota, yaitu Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Ia mengatakan, PRS lebih dari sekadar fasilitas akomodasi, namun dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan seniman lokal, seniman dari berbagai daerah di Indonesia, maupun seniman internasional.
“Interaksi tersebut membuka peluang lahirnya pertukaran pengetahuan, gagasan, pengalaman, hingga kolaborasi kreatif,” ucapnya.
Seniman TIM sekaligus Panitia Pameran, Seno Joko Suyono mengatakan, kehadiran PRS bersama berbagai fasilitas di TIM pada akhirnya membentuk sebuah ekosistem seni yang lebih terintegrasi.
Ia menilai, seniman tidak hanya datang untuk tampil atau berkarya, tetapi juga memiliki ruang untuk tinggal, berdiskusi, berjejaring, dan membangun hubungan dengan sesama pelaku seni.
“TIM saat ini bukan hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi telah berkembang menjadi ruang yang mempertemukan dan menghubungkan para seniman, baik dari berbagai daerah di Indonesia maupun dari dunia internasional,” ucapnya.
Ia berharap, dengan ekosistem tersebut Taman Ismail Marzuki semakin kuat sebagai rumah seni yang ramah bagi seniman Indonesia dan dunia, sekaligus menjadi ruang publik yang mendorong tumbuhnya interaksi dan kolaborasi kebudayaan.
“Bagi kami para seniman, TIM bukan sekadar gedung atau kawasan kesenian. TIM adalah ruang hidup tempat gagasan bertemu, karya tumbuh, dan kebudayaan Indonesia diperkenalkan kepada dunia. Inilah yang semakin mengokohkan Jakarta sebagai kota global yang modern dan terbuka, namun tetap memiliki akar budaya dan seni yang kuat,” tandasnya.