Upaya Pencegahan Diperkuat, Tren Kasus DBD di Jakarta Menurun
Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian demam berdarah dengue (DBD), terutama menjelang musim pancaroba dan penghujan.
"Kasus tahun ini sekitar 16,5 persen lebih rendah,"
Berdasarkan data surveilans Dinkes DKI Jakarta, puncak kasus DBD terjadi pada Maret 2026. Tren kasus terus menunjukkan penurunan setelah April 2026.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengatakan, jumlah kasus DBD tercatat sebanyak 58 kasus pada Oktober 2026, menurun dibandingkan September 2026.
Pencegahan DBD di Pesanggrahan DigencarkanSecara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Kasus tahun ini sekitar 16,5 persen lebih rendah dibandingkan 2025 dan sekitar 38,4 persen lebih rendah dibandingkan 2024,” ungkapnya, Jumat (16/10).
Ia menyampaikan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta melakukan sejumlah upaya untuk menekan angka kasus, mulai dari penguatan surveilans dan kewaspadaan dini, penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dilaporkan, hingga pengendalian vektor berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi.
Selain itu, penguatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus dan peran juru pemantau jentik (Jumantik) terus dilakukan, disertai upaya memastikan deteksi serta tata laksana pasien secara cepat di puskesmas dan rumah sakit.
“Fokus kami bukan hanya menekan jumlah kasus, tetapi juga mencegah kematian akibat dengue melalui deteksi dan penanganan sedini mungkin,” ujarnya.
Ani menjelaskan, Gerakan PSN 3M Plus tetap menjadi intervensi penting dan efektif dalam pencegahan DBD menjelang musim pancaroba dan penghujan, karena menyasar langsung tempat perkembangbiakan nyamuk.
Namun, efektivitas gerakan tersebut sangat bergantung pada konsistensi dan cakupan pelaksanaannya. Menurutnya, PSN tidak cukup hanya dilakukan ketika muncul kasus atau saat kunjungan Jumantik, tetapi harus menjadi kegiatan rutin setiap rumah tangga dan seluruh pengelola lingkungan.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga mendorong keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat dalam pelaksanaan PSN 3M Plus. Hal ini mengingat lingkungan di Jakarta tidak hanya terdiri atas kawasan permukiman, tetapi juga perkantoran, institusi pendidikan, tempat-tempat umum, tempat pengelolaan makanan, sarana kesehatan, dan sarana olahraga.
“Evaluasi kami adalah perlunya keterlibatan seluruh lapisan masyarakat secara aktif dalam Gerakan PSN 3M Plus,” ucapnya.
Ani mengatakan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah melakukan koordinasi secara berjenjang dengan jajaran pemerintah daerah dan perangkat terkait Dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap DBD.
Ia menyampaikan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar rapat koordinasi yang melibatkan para wali kota dan bupati, kepala perangkat daerah, serta camat dan lurah di seluruh wilayah Jakarta pada 1 Oktober 2026. Koordinasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan wilayah terhadap DBD sebelum memasuki musim penghujan.
Selain koordinasi, sambungnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga menerbitkan Surat Edaran Nomor 35 Tahun 2026 tentang Pencegahan DBD Melalui Sinergi Lintas Sektor dan Integrasi Data dalam Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD.
“Regulasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi lintas sektor dan integrasi data dalam pencegahan DBD,” katanya.
Ani menjelaskan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga melaksanakan kampanye peningkatan kewaspadaan masyarakat pada 27 September 2026 di kawasan Bundaran HI saat kegiatan Car Free Day, bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan mitra lainnya.
Ia menambahkan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta bersama jajaran puskesmas, camat, dan lurah tetap aktif melaksanakan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (Gerebek PSN) setiap Jumat secara langsung di tengah masyarakat hingga saat ini.
“Target kita bukan hanya menurunkan kasus, tetapi sebisa mungkin mencegah setiap kematian akibat DBD di Jakarta,” tandasnya.