PPWK DKI Jakarta Adakan Webinar Wawasan Kebangsaan
Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) DKI Jakarta, Senin (18/6), menyelenggarakan webinar pembinaan wawasan kebangsaan yang diikuti ribuan pelajar SMA dan SMK se Jakarta.
"Satu semangat, satu jiwa, merawat persatuan dan memperkuat kegotongroyongan,"
Kepala Badan Kesbangpol DKI Jakarta, Muhammad Matsani, mengapresiasi kegiatan ini karena menjadi wadah untuk membumikan kembali nilai-nilai Pancasila dan memperkokoh rasa cinta tanah air.
"PPWK DKI Jakarta diharapkan terus konsisten menjadi wadah berkumpulnya elemen bangsa guna menjaga dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila, seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara," ujar Matsani.
Ketua DPRD Dorong Penguatan Wawasan Kebangsaan Anggota DewanIa juga berpesan kepada peserta webinar agar tidak mudah terpancing isu negatif yang hendak memecah belah sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Mari bersama menyatukan tekad, satu semangat, satu jiwa dalam merawat persatuan dan memperkuat kegotongroyongan," serunya.
"Perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di Indonesia dipandang sebagai satu kekayaan dan pengikat Bhinneka Tunggal Ika, bukan sebagai pemecah belah," sambungnya.
Sementara Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Ali Mukodas menuturkan, pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan proses membentuk manusia cerdas pikiran, kuat karakter dan memiliki kepedulian terhadap bangsa serta sesama.
"Tantangan yang dihadapi generasi muda hari ini jauh berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Perkembangan teknologi digital, arus informasi tanpa batas serta derasnya pengaruh global membawa banyak peluang, tetapi juga tantangan yang tidak sederhana," tukasnya.
Ia memaparkan, ruang digital dapat menjadi sarana belajar, berkreasi dan berkolaborasi. Namun di sisi lain, juga dapat memunculkan disinformasi, intoleransi, polarisasi, bahkan lunturnya rasa kebangsaan apabila tidak disikapi dengan bijak.
Oleh karena itu, menurut Ali Mukodas, wawasan kebangsaan menjadi sangat penting untuk terus diperkuat terutama di lingkungan pendidikan.
"Wawasan kebangsaan bukan hanya tentang hafal simbol negara atau memahami sejarah bangsa, tetapi lebih dalam dari itu, yaitu bagaimana menumbuhkan rasa memiliki terhadap Indonesia, menghargai keberagaman, menjaga persatuan, serta memiliki," paparnya.
Ia berharap, kegiatan ini tidak berhenti hanya sebagai forum diskusi, tetapi menjadi ruang pembelajaran bersama untuk memperkuat komitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan.
"Masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas karakter dan kepedulian. Jadilah generasi yang tidak mudah terpecah oleh perbedaan, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu kebenarannya. Serta mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk hal-hal yang membawa manfaat bagi masyarakat dan bangsa," tandasnya.