IPM Jakarta Meningkat, Kualitas Kesehatan dan Pendidikan Warga Membaik
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DKI Jakarta pada 2026 mencapai 85,88 atau meningkat 0,83 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
"Perbaikan juga terlihat pada dimensi standar hidup layak,"
Peningkatan ini ditopang perbaikan seluruh indikator pembentuk IPM, yakni kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, Kadarmanto mengatakan, capaian tersebut menunjukkan pembangunan manusia di Jakarta terus mengalami kemajuan. Dalam lima tahun terakhir, IPM Jakarta juga konsisten meningkat, dari 82,77 pada 2022 menjadi 85,88 pada 2026 atau bertambah 3,11 poin.
BPS Jaksel Perkuat Literasi Statistik"Dengan capaian tersebut, status pembangunan manusia Jakarta tetap berada dalam kategori sangat tinggi," ujarnya, Jumat (6/11).
Pada dimensi kesehatan, Umur Harapan Hidup (UHH) saat lahir pada 2026 mencapai 76,44 tahun atau meningkat 0,17 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan adanya perbaikan taraf kesehatan masyarakat di Jakarta.
Sementara itu, pada dimensi pendidikan, Harapan Lama Sekolah (HLS) meningkat dari 13,80 tahun menjadi 14 tahun. Artinya, anak usia tujuh tahun di Jakarta memiliki harapan untuk menempuh pendidikan selama 14 tahun. Adapun Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas naik dari 11,59 tahun menjadi 11,76 tahun.
"Perbaikan juga terlihat pada dimensi standar hidup layak. Pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan mencapai Rp21,43 juta atau meningkat Rp755 ribu (3,65 persen) dibandingkan tahun sebelumnya," jelasnya.
Berdasarkan wilayah, seluruh lima kota administrasi di Jakarta telah mencapai kategori pembangunan manusia sangat tinggi. Sementara itu, Kabupaten Kepulauan Seribu masih berada dalam kategori tinggi.
"Jakarta Selatan mencatat IPM tertinggi sebesar 88,92, sedangkan Kepulauan Seribu terendah dengan 78,20," kata Kadarmanto.
Meski demikian, seluruh wilayah kabupaten/kota di Jakarta mencatat peningkatan IPM pada 2026. Kenaikan tertinggi terjadi di Jakarta Pusat sebesar 0,95 poin.
Kadarmanto menambahkan, peningkatan tersebut menjadi gambaran kemajuan pembangunan manusia di Jakarta terus membaik.
"Meskipun kesenjangan capaian antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian," tandasnya.