You don't have javascript enabled. Good luck with that.
Pencarian
Tahun 2015, DKI Targetkan Miliki 1.500 Bank Sampah
photo Nurito - Beritajakarta.id

DKI Targetkan Miliki 1.500 Bank Sampah

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus berupaya menanggulangi volume sampah yang terus meningkat di ibu kota. Salah satu upaya yang dilakukan dengan memperbanyak jumlah bank sampah. Bahkan tahun ini, Dinas Kebersihan DKI Jakarta menargetkan memiliki sebanyak 1.500 bank sampah di lima wilayah Jakarta.

Kami akan merangsang warga agar membangun bank sampah. Kami targetkan tahun ini bisa membangun 1.500 bank sampah di Jakarta

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Saptastri Ediningtyas Kusumadewi mengatakan, pihaknya akan terus menggalakkan program bank sampah. Pasalnya, di bagian hulu sampah sudah dikelola melalui bank sampah.

Tanah Abang Penghasil Sampah Tertinggi di Jakpus

"Kami akan merangsang warga agar membangun bank sampah. Kami targetkan tahun ini bisa membangun 1.500 bank sampah di Jakarta. Banyak lembaga atau kantor pemerintah maupun swasta, sekolah, pusat perbelanjaan, dan sebagainya yang bisa mendukung program ini," ujar Saptastri Ediningtyas, Selasa (17/2).

Untuk membangun bank sampah ini, terang Saptastri Ediningtyas, sangat mudah dan sederhana. Hanya dibutuhkan lahan untuk penampungan dan kemauan untuk mengelolanya. Kemudian ada tenaga pemilah dan alat timbangan.

Untuk tahap awal, pihaknya membangun bank sampah "Resik" di kantornya. Kemudian menyusul suku dinas di lima wilayah kota dan Kepulauan Seribu. Para pegawainya juga diwajibkan menyetor sampah kering ke bank sampah resik. Setiap pegawai diberikan buku rekening sampah. Satu kilo sampah dihargai Rp 1.000.

Nuralimah (38), pengurus bank sampah terpadu RW 09 Ciracas, Jakarta Timur, mengatakan, setiap bulan bank sampah yang dikelolanya menghasilkan satu ton sampah kering. Kemudian 300 kilogram sampah basah setiap pekan untuk dijadikan kompos.

"Dari sampah kering yang dikumpulkan, didaur ulang menjadi aneka barang-barang menarik dengan harga ekonomis. Seperti tas jinjing dibanderol dengan harga Rp 100-150 ribu. Kemudian ada tempat tisu, pensil, buku agenda, dan sebagainya.

"Hanya saja kami kurang promosi dan tak bisa menjual mahal. Karena bahan bakunya barang bekas, tentu orang tidak mau beli kalau harganya mahal," ujar Nuralimah.

Berita Terkait
Berita Terpopuler indeks
  1. Bangunan Arena Padel di Kembangan Disegel

    access_time09-03-2026 remove_red_eye6795 personBudhi Firmansyah Surapati
  2. Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Dua Kali

    access_time12-03-2026 remove_red_eye6176 personAldi Geri Lumban Tobing
  3. Atasi Sampah, Pemprov DKI Usulkan Pembangunan Tiga PLTSa

    access_time12-03-2026 remove_red_eye1408 personDessy Suciati
  4. 150 Personel Gulkarmat Atasi Kebakaran di Bintaro

    access_time14-03-2026 remove_red_eye1324 personTiyo Surya Sakti
  5. Pemprov DKI Terus Upayakan Jaga Stabilitas Harga dan Stok Pangan

    access_time13-03-2026 remove_red_eye1247 personAldi Geri Lumban Tobing