Pelajar di Jakbar Pamerkan Hasil Olah Sampah dan Urban Farming
Pelajar Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 297, Jakarat Barat, Jumat (7/8), memamerkan berbagai hasil urban farming seperti, produk tanaman labu madu, singkong, jagung serta hasil pengolahan sampah seperti produk kriya, kompos dan kompos cair.
Membangun budaya disiplin dan tanggung jawab terhadap terhadap lingkungan
Kegiatan yang dilakukan para pelajar ini, diapresiasi Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Barat, Imron Syahrin. Menurutnya, ini merupakan wujud nyata bahwa sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda yang peduli terhadap lingkungan
"Gerakan pilah sampah akan membangun budaya disiplin dan tanggung jawab terhadap terhadap lingkungan. Sedangkan kegiatan urban farming, mengajarkan bahwa ketahanan pangan, penghijauan, dan kecintaan terhadap alam dapat dimulai dari lahan yang terbatas sederhana di lingkungan sekolah," paparnya.
Pram Dukung Kepolisian Tindak Tegas Temuan Senjata di SekolahMenurut Imron, kebiasaan mengelola sampah apabila dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar bagi kebersihan di wilayah Jakarta Barat.
Karena itu, Ia mengapresiasi Jajaran Suku Dinas Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Barat yang telah menerjemahkan kebijakan tersebut menjadi aksi nyata.
"Saya berharap sekolah-sekolah di Sudindik Jakarta Barat 1 dapat menjadi contoh bagi sekolah lain di Jakarta dalam membangun budaya lingkungan yang berkelanjutan," tegasnya.
Sementara,Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana menegaskan bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik melalui pembiasaan menjaga lingkungan.
"Pendidikan karakter dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah, menjaga kebersihan, dan mencintai lingkungan. Ini sejalan dengan upaya mewujudkan sekolah yang aman, nyaman, sehat, dan berkelanjutan,” tambahnya.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Barat, Agus Ramdhani menambahkan, seluruh sekolah di wilayahnya telah berkomitmen untuk melakukan pemilahan sampah dan mengolahnya menjadi berbagai produk. Lalu, mereka juga telah memanfaatkan lahan sekolah untuk melaksanakan urban farming.
Kedua aktivitas itu, menurut Agus, telah terintegrasi sehingga hasil dari pengolahan sampah organik berupa pupuk kompos dkmanfaatkan untuk urban farming. Lalu, untuk sampah anorganik telah diolah menjadi berbagai produk kriya yang memiliki nilai jual dan meningkatkan kreativitas pelajar.
"Kami dan seluruh sekolah yang ada, berkomitmen untuk menjaga sekolah tetap bersih, aman, dan nyaman. Serta tentunya mendukung kegiatan pilah sampah," tandasnya.